ASLIBATANG.COM, BATANG – Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang dalam merumuskan kebijakan publik berbasis riset dan data akurat kembali membuahkan apresiasi bergengsi di tingkat regional.
Pemerintah Kabupaten Batang secara resmi masuk dalam jajaran penerima penghargaan Top 10 Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas keberhasilan Pemkab Batang dalam memanfaatkan data instrumen IDSD secara optimal guna menyusun program-program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Indeks Daya Saing Daerah sendiri merupakan instrumen terukur tahunan yang dikeluarkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menilai tingkat kematangan, kinerja inovasi, serta posisi tawar suatu daerah di tingkat regional maupun nasional.
Metode pengukuran IDSD bertumpu pada empat komponen utama yang krusial, meliputi Lingkungan Pendukung, Sumber Daya Manusia (SDM), Pasar, serta Ekosistem Inovasi.
Berdasarkan catatan rekam data, skor IDSD Kabupaten Batang mengalami tren kenaikan positif dari angka 3,59 pada tahun 2024 menjadi 3,61 pada tahun 2025.
Lonjakan capaian paling signifikan tercatat pada komponen SDM yang merangkak naik dari 3,74 menjadi 3,86, serta komponen Pasar yang meningkat dari 3,21 ke 3,34.
Bukan Sekadar Skor, Tapi Eksekusi Kebijakan Nyata
Akan tetapi, faktor utama yang mengantarkan Kabupaten Batang bertengger di jajaran 10 besar daerah terbaik se-Jawa Tengah bukanlah semata-mata dipicu oleh capaian skor tersebut.
Penilaian tertinggi justru diberikan atas kemampuan dan kecermatan pemerintah daerah dalam merespons indikator data menjadi intervensi kebijakan yang tepat sasaran di lapangan.
Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan konkret Pemprov Jateng terhadap jajaran Pemkab Batang yang dinilai adaptif serta mampu mengolah data mentah menjadi solusi pemecahan masalah publik.
“Jadi bukan karena nilai IDSD-nya itu yang paling tinggi, itu bukan. Tapi dari IDSD yang ada, datanya dimanfaatkan secara nyata untuk pengambilan kebijakan,” ungkap Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, usai penganugerahan penghargaan tersebut.
Bupati Faiz memaparkan, seluruh hasil pemetaan data IDSD dibedah secara mendalam untuk membaca kelemahan serta kekuatan daerah secara obyektif.
Temuan riset tersebut kemudian ditindaklanjuti secara sistematis ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) hingga eksekusi program di lapangan.
Intervensi Sektor SDM hingga Pendidikan
Sebagai gambaran nyata, pada komponen Sumber Daya Manusia yang menyoroti indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Pemkab Batang merespons cepat melalui formulasi program Daker (Dapat Kerja).
Inovasi kebijakan Daker ini memfokuskan pada pemberian pelatihan vokasi terarah serta penyaluran calon tenaga kerja lokal ke kawasan-kawasan industri strategis di Kabupaten Batang.
Pendekatan berbasis data yang presisi juga diterapkan secara masif pada indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS).
Ketika data lapangan menunjukkan adanya aspek pendidikan yang membutuhkan dorongan, Pemkab Batang langsung melakukan intervensi kebijakan berupa pembenahan fasilitas sarana prasarana sekolah, penyaluran program beasiswa, hingga penguatan penyelenggaraan kejar paket bagi warga.
Melalui pendekatan modern yang mengombinasikan analisis data presisi dengan penanganan program di lapangan, Pemkab Batang membuktikan bahwa dokumen riset tidak sekadar berakhir tumpukan arsip.
Data tersebut kini menjelma menjadi pijakan utama dalam melahirkan inovasi pelayanan publik sekaligus mendongkrak kualitas hidup warga Kabupaten Batang secara berkelanjutan. (*)






