Hadapi Kemarau, DPRD Semarang Dorong Warga Bikin Budikdamber

oleh -8 Dilihat

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Suharsono, mendorong masyarakat di seluruh wilayah Kota Semarang untuk memanfaatkan metode Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) sebagai langkah nyata dalam menjaga ketahanan pangan tingkat keluarga. Inisiatif ini dinilai menjadi salah satu alternatif paling cerdas dan efisien dalam menghadapi potensi krisis pangan yang sering kali dipicu oleh musim kemarau panjang.

Solusi Efisien untuk Ketahanan Pangan Perkotaan

Budikdamber merupakan teknik budidaya perikanan yang digabungkan dengan sistem akuaponik tanaman sayuran dalam satu wadah berupa ember. Metode ini sangat cocok diterapkan di kawasan perkotaan seperti Kota Semarang, di mana keterbatasan lahan sering kali menjadi hambatan utama bagi warga yang ingin bercocok tanam atau beternak. Dengan hanya memanfaatkan ruang sempit di pekarangan rumah, teras, atau bahkan balkon, masyarakat sudah bisa memproduksi sumber protein hewani sekaligus sayuran segar secara mandiri.

banner 336x280

Suharsono menjelaskan bahwa penggunaan metode Budikdamber memiliki banyak keunggulan, terutama dari segi efisiensi penggunaan air dan biaya operasional yang sangat terjangkau. Di tengah kondisi kemarau panjang yang berpotensi menurunkan pasokan air bersih dan mengurangi produktivitas sektor pertanian tradisional, teknik ini hadir sebagai solusi adaptif yang hemat air. Air dalam ember dapat disirkulasi dan dimanfaatkan sekaligus untuk memberi nutrisi pada tanaman sayur seperti kangkung atau sawi yang ditanam di bagian atas ember.

Selain hemat air dan tempat, Budikdamber juga memberikan manfaat ganda dalam satu kali siklus pemeliharaan. Jenis ikan yang umumnya dibudidayakan adalah ikan lele atau patin yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan minim oksigen. Dalam jangka waktu beberapa bulan, warga tidak hanya dapat memanen ikan sebagai sumber protein harian, tetapi juga dapat memanen sayuran segar secara berkala tanpa perlu mengeluarkan biaya belanja harian yang besar.

Mengantisipasi Dampak Kemarau Panjang dan Inflasi Pangan

Fenomena kemarau panjang sering kali membawa dampak berantai terhadap sektor pangan, baik di tingkat regional maupun nasional. Penurunan curah hujan yang drastis berdampak langsung pada penurunan hasil panen di berbagai kawasan sentra pertanian pendukung Kota Semarang. Hal ini berpotensi memicu kelangkaan komoditas pangan pokok di pasar-pasar tradisional, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga atau inflasi bahan pangan.

Dalam kondisi demikian, masyarakat perkotaan menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan pokok. Oleh karena itu, langkah antisipatif melalui gerakan ketahanan pangan berbasis rumah tangga menjadi sangat krusial. DPRD Kota Semarang menilai bahwa masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, melainkan harus mulai membangun kemandirian pangan dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Pemerintah Kota Semarang bersama dinas-dinas terkait, seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan, diharapkan dapat merespons dorongan ini dengan memberikan pendampingan serta pelatihan teknis secara masif kepada masyarakat. Pelatihan mengenai cara pembuatan media Budikdamber, manajemen pakan, hingga pengelolaan kualitas air menjadi faktor kunci agar masyarakat dapat menjalankan budidaya ini secara berkelanjutan dan memperoleh hasil panen yang optimal.

Pemberdayaan Masyarakat dan Keberlanjutan Lingkungan

Upaya mendorong Budikdamber ini juga dinilai dapat memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi warga di tingkat RT, RW, maupun melalui kelompok-kelompok kemasyarakatan seperti Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Karang Taruna. Ketika setiap rumah tangga memiliki sumber pangan mandiri, kelebihan hasil panen dapat saling dibagikan atau dijual di lingkungan sekitar untuk menambah pendapatan keluarga.

Suharsono berharap gerakan Budikdamber tidak hanya dijadikan sebagai program darurat atau musiman saat menghadapi kemarau saja, melainkan dapat ditransformasikan menjadi gaya hidup hijau (green lifestyle) masyarakat perkotaan. Pola pikir mandiri pangan ini penting untuk ditanamkan guna membentuk masyarakat yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan krisis iklim dan ekonomi di masa depan.

Dengan sinergi yang kuat antara legislatif, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, program ketahanan pangan keluarga berbasis Budikdamber ini diyakini mampu menjaga stabilitas pangan di Kota Semarang. Langkah kecil yang dimulai dari pekarangan rumah masing-masing warga diharapkan dapat memberikan dampak besar bagi ketahanan dan kedaulatan pangan daerah secara menyeluruh.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *