Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) resmi meluncurkan gerakan inovatif bernama “Ratu Ngebor” atau Satu Rumah Satu Biopori. Peluncuran gerakan ini dilangsungkan di Lapangan Kembangarum, Kelurahan Dukuh, pada Jumat (4/9/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata dalam mengatasi darurat sampah organik yang kian mengkhawatirkan, dengan memfokuskan penanganan langsung dari sumber utamanya, yaitu lingkungan rumah tangga.
Mengenal Gerakan Ratu Ngebor dan Manfaat Biopori
Gerakan “Ratu Ngebor” merupakan sebuah kampanye lingkungan yang mengajak setiap kepala keluarga di Kota Salatiga untuk membuat minimal satu lubang biopori di pekarangan rumah mereka. Biopori sendiri adalah metode alternatif untuk meresapkan air hujan sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos. Dengan membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah, masyarakat dapat memasukkan sampah dapur seperti sisa makanan, kulit buah, dan sayuran langsung ke dalam lubang tersebut.
Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan memancing aktivitas organisme tanah, seperti cacing dan mikroba. Organisme ini akan memakan sampah tersebut dan membentuk rongga-rongga di dalam tanah yang berfungsi sebagai saluran resapan air. Proses alami ini tidak hanya menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi yang dapat menyuburkan tanaman di sekitar rumah, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga dapat meminimalisasi risiko genangan air dan banjir lokal.
Melalui gerakan ini, Pemkot Salatiga berharap dapat mengubah paradigma masyarakat dalam memandang sampah. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban dan sumber bau tidak sedap, kini dapat dikelola secara mandiri menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan sekitar.
Urgensi Penanganan Sampah Organik dari Rumah Tangga
Masalah penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) telah menjadi isu krusial di berbagai kota besar di Indonesia, tidak terkecuali di Salatiga. Sebagian besar volume sampah yang masuk ke TPA didominasi oleh sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur rumah tangga. Ketika sampah organik ini tercampur dengan sampah anorganik seperti plastik di TPA, proses pembusukan akan menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi atmosfer dan memicu pemanasan global, serta menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga sekitar.
Dengan memilah dan mengolah sampah organik langsung di rumah melalui lubang biopori, beban kerja TPA dapat dikurangi secara drastis. Penurunan volume sampah yang diangkut ke TPA juga akan berdampak positif pada efisiensi anggaran daerah, terutama dalam hal biaya operasional pengangkutan dan pengelolaan sampah. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari setiap rumah tangga menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Selain itu, edukasi mengenai pemilahan sampah sejak dari sumbernya harus terus digalakkan. Masyarakat perlu dibiasakan untuk memisahkan sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik) sebelum dibuang. Gerakan Ratu Ngebor ini menjadi momentum yang tepat untuk mengedukasi warga mengenai pentingnya gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kolaborasi Pemerintah dan PKK untuk Keberlanjutan Program
Keberhasilan gerakan “Ratu Ngebor” ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan. Keterlibatan Tim Penggerak PKK dinilai sangat strategis karena organisasi ini memiliki jaringan yang kuat hingga ke tingkat dasawisma dan rukun tetangga (RT). Kader-kader PKK dapat menjadi ujung barat dalam melakukan sosialisasi, memberikan pelatihan pembuatan biopori, serta memantau jalannya program ini di lingkungan masing-masing.
Pemerintah Kota Salatiga juga berkomitmen untuk memberikan dukungan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti penyediaan alat bor tanah untuk pembuatan biopori yang dapat digunakan secara bergantian oleh warga. Dengan adanya fasilitas pendukung dan pendampingan yang konsisten, diharapkan gerakan ini tidak hanya menjadi seremonial belaka, melainkan tumbuh menjadi sebuah kebiasaan baru yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Salatiga.
Melalui langkah kecil yang dimulai dari halaman rumah sendiri, masyarakat Salatiga telah berkontribusi besar dalam menjaga kelestarian bumi. Gerakan “Ratu Ngebor” ini diharapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lain di Indonesia untuk menerapkan solusi serupa dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan secara mandiri, murah, dan berdaya guna tinggi.






