Warga Batang Bentang 250 Meter Lengko Singkong di HUT RI

oleh -11 Dilihat

Warga Desa Denasri Kulon, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memiliki cara yang sangat unik dan sarat akan nilai kebersamaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Alih-alih menggelar panggung hiburan yang mewah dan megah, warga di Blok Ngasem, RT 04 RW 02, justru memilih untuk menyajikan hidangan tradisional lengko singkong sepanjang 250 meter. Hidangan ini disajikan di atas meja panjang beralaskan daun pisang yang membentang rapi di sepanjang jalan kampung pada malam hari.

Semangat Gotong Royong dan Keguyuban Warga

Kegiatan yang menarik perhatian banyak pihak ini bukan sekadar acara makan bersama biasa, melainkan sebuah simbol gotong royong yang nyata. Untuk mewujudkan bentangan lengko sepanjang seperempat kilometer tersebut, warga secara swadaya mengumpulkan dan mengolah tidak kurang dari 7 kuintal atau sekitar 700 kilogram singkong. Proses persiapan hingga penyajian dilakukan secara bersama-sama, mulai dari mengupas singkong, mencuci, mengukus, hingga menatanya di atas daun pisang.

banner 336x280

Keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua, menunjukkan betapa kuatnya rasa keguyuban yang masih terjaga di Desa Denasri Kulon. Ibu-ibu PKK dan dasawisma menjadi motor utama di dapur umum darurat, sementara para pria membantu dalam hal logistik dan penataan meja di sepanjang jalan desa. Kerja keras yang melelahkan tersebut terbayar lunas ketika hidangan siap disajikan dan dinikmati bersama di bawah temaram lampu hias khas agustusan.

Bagi masyarakat setempat, momen ini menjadi ajang silaturahmi yang sangat efektif. Di tengah gempuran era digital yang sering kali membuat jarak sosial antar-tetangga semakin menjauh, tradisi makan bersama di sepanjang jalan ini berhasil menyatukan kembali komunikasi yang sempat renggang. Mereka duduk bersila berdampingan tanpa memandang status sosial, menikmati hidangan yang sama, dan saling bertukar cerita dengan penuh tawa.

Lengko Singkong sebagai Simbol Ketahanan Pangan

Pemilihan singkong sebagai bahan utama hidangan lengko ini tentu bukan tanpa alasan. Singkong merupakan salah satu komoditas pangan lokal yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat agraris di Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Batang. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, singkong juga kerap menjadi penyelamat di masa-masa sulit ketika beras menjadi barang yang langka dan mahal.

Dengan mengolah singkong menjadi hidangan lengko yang lezat, warga Denasri Kulon ingin mengirimkan pesan penting tentang pentingnya menghargai pangan lokal. Lengko singkong yang disajikan dengan taburan parutan kelapa gurih atau bumbu kacang khas ini membuktikan bahwa bahan makanan sederhana dapat diubah menjadi hidangan yang istimewa jika dikelola dengan kreativitas dan kebersamaan. Langkah ini juga menjadi bentuk kampanye halus untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan pangan impor.

Selain itu, penyajian di atas daun pisang juga memberikan sentuhan ekologis yang sangat baik. Penggunaan daun pisang sebagai alas makan tidak hanya menambah aroma harum alami pada hidangan lengko, tetapi juga meminimalisasi penggunaan plastik sekali pakai yang dapat mencemari lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya peduli pada aspek sosial, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi dalam merayakan kemerdekaan.

Refleksi Kemerdekaan Melalui Tradisi Lokal

Perayaan HUT RI dengan cara tradisional seperti ini memberikan refleksi mendalam mengenai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan pesta pora yang menghabiskan banyak biaya, melainkan dengan mensyukuri hasil bumi dan mempererat tali persaudaraan antar-sesama warga negara. Bentangan lengko sepanjang 250 meter ini menjadi bukti nyata bahwa kebahagiaan sejati dapat diciptakan dari hal-hal yang sederhana di sekitar kita.

Pemerintah daerah setempat pun memberikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif kreatif warga Desa Denasri Kulon ini. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat menginspirasi desa-desa lain di Kabupaten Batang untuk terus menggali potensi lokal dan melestarikan tradisi gotong royong. Melalui kegiatan yang berbasis kemasyarakatan ini, nilai-nilai luhur pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, bentangan lengko singkong di sepanjang jalan Blok Ngasem ini akan terus dikenang oleh warga sebagai salah satu momen perayaan kemerdekaan yang paling berkesan. Kehangatan, tawa, dan rasa kenyang yang dirasakan bersama malam itu menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian di desa mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *