Warga Desa Denasri Kulon, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara unik dan penuh kehangatan. Bukan sekadar pertunjukan panggung hiburan yang mewah, daya tarik utama acara justru datang dari deretan meja sepanjang 250 meter yang membentang di sepanjang jalan kampung Blok Ngasem, RT 04/RW 02. Meja beralaskan daun pisang tersebut menyajikan hidangan tradisional khas berbahan dasar singkong, yaitu lengko singkong, yang dinikmati bersama oleh seluruh warga.
Gotong Royong Mengolah 7 Kuintal Singkong
Proses pembuatan sajian lengko dalam jumlah luar biasa ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih mengakar kuat di tengah masyarakat pedesaan. Warga saling bahu-membahu mengolah bahan baku singkong sebanyak 7 kuintal atau setara 700 kilogram. Pekerjaan besar ini dimulai sejak tahap persiapan awal, mulai dari mengupas kulit singkong, membersihkannya dengan air mengalir, hingga mengukus atau merebus singkong tersebut sampai teksturnya empuk dan siap diolah menjadi hidangan lengko yang lezat.
Keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kaum ibu, bapak-bapak, hingga pemuda dan pemudi karang taruna, membuat proses pengolahan berjalan lancar dan meriah. Para ibu bertugas mengurus racikan bumbu-bumbu tradisional seperti kacang tanah goreng, bumbu halus, serta bahan pelengkap lainnya. Sementara itu, kaum pria membantu menyusun meja kayu dan memotong serta merapikan ribuan lembar daun pisang yang dijadikan sebagai alas bentangan makanan sepanjang 250 meter tersebut.
Penggunaan alas daun pisang tidak hanya memberikan aroma alami khas yang menggugah selera makan, tetapi juga menghadirkan nuansa kesederhanaan kental khas pedesaan. Meja panjang yang membentang menyusuri jalan pemukiman warga tersebut dihiasi dengan bentangan lengko yang merata, siap untuk disantap bersama secara serentak oleh ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan sejak sore hari.
Lengko Singkong: Kuliner Tradisional Kaya Makna
Hidangan lengko pada umumnya dikenal sebagai makanan khas dari kawasan pesisir Jawa Tengah dan Jawa Barat yang memadukan nasi atau lontong dengan tahu, tempe, tauge, ketimun, serta siraman bumbu kacang gurih. Namun, variasi olahan lengko berbasis singkong yang dihadirkan oleh warga Denasri Kulon ini memberikan daya tarik tersendiri. Singkong dipilih sebagai bahan utama karena merupakan komoditas pangan lokal yang mudah didapatkan, ekonomis, serta memiliki nilai sejarah panjang dalam menopang ketahanan pangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu.
Dalam konteks peringatan hari kemerdekaan, pemilihan bahan dasar singkong memiliki filosofi yang cukup mendalam. Singkong merupakan simbol kesederhanaan, daya tahan, dan kearifan lokal. Mengolah singkong menjadi makanan lezat dalam porsi raksasa membuktikan bahwa kebahagiaan dan kemeriahan perayaan HUT RI tidak harus diukur dari besarnya biaya yang dikeluarkan, melainkan dari tingginya kebersamaan dan kreativitas yang ditunjukkan oleh warga.
Bumbu kacang yang kaya rempah disiramkan secara merata di atas potongan singkong yang telah ditata. Aroma harum bawang goreng, irisan seledri, serta renyahnya kerupuk yang ditaburkan di atas bentangan lengko semakin menambah kelezatan sajian ini. Tradisi makan bersama dalam satu wadah panjang tanpa sekat pemisah secara tidak langsung menegaskan rasa kesetaraan di antara sesama warga kampung.
Mempererat Silaturahmi dan Spirit Kemerdekaan
Acara makan bersama ini diikuti oleh ratusan warga dari berbagai latar belakang dan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mereka duduk berjejer di sepanjang jalan kampung tanpa ada perbedaan status sosial. Momen ketika seluruh warga menyantap hidangan lengko secara bersama-sama menciptakan suasana keguyuban yang sangat hangat dan semakin jarang ditemui di tengah arus modernisasi saat ini.
Semangat kemerdekaan yang sesungguhnya tercermin dari bagaimana masyarakat menguatkan tali silaturahmi melalui kegiatan sederhana namun berdampak besar ini. Diskusi hangat, canda tawa, serta keakraban antar tetangga mengalir secara alami selama kegiatan berlangsung. Perayaan semacam ini menjadi sarana yang sangat efektif untuk mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan warga, serta menanamkan nilai-nilai Pancasila dan gotong royong kepada generasi muda.
Selain mempererat hubungan kemasyarakatan, kegiatan unik ini juga menjadi ajang promosi ragam kuliner tradisional daerah agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi penerus. Pengolahan singkong dalam jumlah masif hingga mencapai 7 kuintal ini menunjukkan betapa besarnya potensi pangan lokal apabila dikelola dengan baik melalui kerja sama tim yang solid.
Keberhasilan warga Blok Ngasem Desa Denasri Kulon dalam menggelar bentangan lengko singkong sepanjang 250 meter ini memberikan inspirasi positif bagi daerah lain. Di tengah gempuran tren hiburan modern, masyarakat pedesaan di Kabupaten Batang ini mampu membuktikan bahwa kebersamaan dan kesederhanaan dapat menciptakan perayaan kemerdekaan yang berkesan dan penuh makna.
Melalui sajian sederhana di atas daun pisang, warga Denasri Kulon berhasil memaknai arti kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya, yaitu persatuan, kesetaraan, dan rasa syukur. Tradisi keguyuban seperti ini diharapkan dapat terus dirawat dan dilestarikan secara konsisten sebagai warisan budaya lokal yang sangat berharga.






