Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, secara resmi membuka Konferensi Forum Anak Jawa Tengah yang diselenggarakan di Aula Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan bahwa berbagai persoalan pelik yang dihadapi oleh anak-anak saat ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh peran orang dewasa saja. Oleh karena itu, Forum Anak didorong untuk menjadi bagian penting dari solusi dalam mengatasi berbagai isu krusial seperti perundungan, putus sekolah, perkawinan usia anak, hingga kekerasan terhadap anak.
Peran Strategis Forum Anak sebagai Agen Perubahan
Taj Yasin menjelaskan bahwa anak-anak sering kali lebih terbuka dan merasa nyaman ketika berbicara dengan teman sebaya mereka dibandingkan dengan orang tua atau guru. Pendekatan dari teman sebaya (peer-to-peer) dinilai jauh lebih efektif dalam mendeteksi dini adanya indikasi kekerasan, perundungan, maupun tekanan mental yang dialami oleh seorang anak. Dengan adanya Forum Anak, diharapkan para anggotanya dapat menjadi pelopor dan pelapor (2P) yang aktif di lingkungan mereka masing-masing.
Sebagai pelopor, anggota Forum Anak diharapkan mampu memberikan contoh perilaku positif, menyebarkan edukasi mengenai hak-hak anak, serta membangun lingkungan yang inklusif dan aman. Sementara sebagai pelapor, mereka diharapkan berani bersuara dan melaporkan segala bentuk pelanggaran hak anak atau kekerasan yang mereka lihat atau alami di sekitar mereka kepada pihak yang berwenang. Melalui mekanisme ini, penanganan masalah anak dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Menekan Angka Pernikahan Dini dan Putus Sekolah
Salah satu fokus utama yang disoroti oleh Wagub Taj Yasin adalah tingginya angka perkawinan usia anak atau pernikahan dini di beberapa wilayah Jawa Tengah. Pernikahan dini tidak hanya merampas hak-hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan dan bermain, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental mereka. Anak perempuan yang menikah di usia dini memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi saat melahirkan, serta rentan terhadap kemiskinan struktural dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Selain pernikahan dini, masalah putus sekolah juga menjadi perhatian serius yang saling berkaitan. Ketika seorang anak putus sekolah, peluang mereka untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik menjadi sangat terbatas. Forum Anak diharapkan dapat membantu mengidentifikasi teman-teman mereka yang berisiko putus sekolah atau yang dipaksa menikah oleh orang tua mereka karena faktor ekonomi atau adat istiadat. Dengan intervensi dini dari sesama anak, diharapkan kasus-kasus seperti ini dapat dicegah sebelum terlambat.
Tantangan Perundungan dan Kekerasan di Era Digital
Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi anak-anak semakin kompleks. Perundungan tidak lagi hanya terjadi di lingkungan sekolah secara fisik, melainkan telah merambah ke dunia maya atau yang dikenal sebagai cyberbullying. Dampak psikologis dari perundungan siber ini sering kali sangat mendalam dan dapat memicu depresi hingga tindakan nekat pada anak-anak yang menjadi korban.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak melalui berbagai program literasi digital. Namun, peran aktif dari Forum Anak sangat dibutuhkan untuk mengampanyekan gerakan anti-perundungan di media sosial. Mereka dapat membuat konten-konten kreatif yang mengedukasi rekan sebaya tentang pentingnya saling menghargai dan tidak melakukan perundungan, baik secara langsung maupun di dunia maya.
Melalui penyelenggaraan Konferensi Forum Anak Jawa Tengah ini, diharapkan lahir rekomendasi-rekomendasi strategis yang murni berasal dari pemikiran anak-anak itu sendiri. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk terus mendukung dan mengintegrasikan suara anak dalam setiap kebijakan pembangunan daerah. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan Forum Anak, Jawa Tengah optimis dapat mewujudkan provinsi yang benar-benar layak anak dan ramah bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa.






