Anak Muda Tegal Enggan Jadi Petani, Apa Penyebabnya?

oleh -7 Dilihat

Ketua DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kota Tegal, Chrisanto Panca Prasetyo, menyoroti minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Dalam acara Talkshow Hari Tani Nasional yang digelar pada Kamis (24/9), masalah krisis regenerasi petani ini menjadi fokus utama pembahasan demi masa depan ketahanan pangan daerah.

Pandangan Stereotip dan Tantangan Ekonomi Pertanian

Kondisi melandainya jumlah petani muda di Kota Tegal tidak terlepas dari pandangan sosial yang masih melekat erat di tengah masyarakat. Banyak anak muda menganggap profesi petani sebagai pekerjaan yang kotor, melelahkan secara fisik, dan kurang bergengsi dibandingkan dengan bekerja di sektor formal seperti perkantoran atau industri jasa. Persepsi ini mendorong generasi milenial dan Gen Z untuk lebih memilih bermigrasi ke kota-kota besar atau mencari pekerjaan di sektor non-pertanian.

banner 336x280

Selain faktor gengsi sosial, pertimbangan ekonomi menjadi alasan mendasar mengapa pemuda enggan menggarap lahan. Sektor pertanian sering kali dipersepsikan memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, mulai dari fluktuasi harga komoditas saat panen raya, ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem, hingga tingginya biaya operasional seperti pupuk dan benih. Kondisi ini membuat profesi petani dinilai belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan yang stabil bagi kehidupan masa depan mereka.

Perkembangan kawasan perkotaan di Kota Tegal juga turut mempersempit ketersediaan lahan pertanian produktif. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman, perdagangan, dan industri terus terjadi dari tahun ke tahun. Keterbatasan akses terhadap kepemilikan modal dan tanah menjadikan dorongan bagi generasi muda untuk menjadi wirausahawan tani semakin melemah, karena modal awal yang dibutuhkan sering kali dianggap tidak sebanding dengan risiko yang harus ditanggung.

Dampak Panjang Terhadap Ketahanan Pangan Daerah

Krisis regenerasi di sektor pertanian membawa ancaman serius bagi kelangsungan ketahanan pangan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Saat ini, mayoritas tenaga kerja di sektor pertanian didominasi oleh kelompok usia tua yang produktivitas fisiknya secara alami mulai menurun. Jika kecenderungan ini dibiarkan tanpa adanya penanganan mendasar, Kota Tegal dan wilayah sekitarnya berisiko mengalami penurunan produksi pangan domestik pada beberapa dekade mendatang.

Ketergantungan pada pasokan komoditas pangan dari luar daerah juga berpotensi meningkat apabila jumlah petani lokal terus menyusut. Hal ini dapat memicu kerentanan harga serta gangguan stabilitas pasokan bahan pokok di pasar tradisional maupun modern. Oleh karena itu, krisis regenerasi petani bukan sekadar persoalan pilihan karir individu, melainkan isu strategis yang berkaitan langsung dengan kedaulatan pangan dan stabilitas ekonomi daerah.

Para pemangku kepentingan menilai bahwa perubahan pola pikir mengenai sektor pertanian harus segera dilakukan secara masif dan terstruktur. Pertanian modern tidak lagi hanya mengandalkan cangkul dan tenaga fisik semata, melainkan sudah melibatkan integrasi teknologi canggih seperti sistem irigasi otomatis, pemanfaatan pesawat nirawak untuk pemupukan, hingga penggunaan aplikasi digital untuk memotong rantai distribusi pemasaran.

Strategi Transformasi dan Modernisasi Sektor Tani

Untuk menarik minat generasi muda, Perhiptani bersama pemerintah daerah dan berbagai lembaga terkait perlu merumuskan langkah kongkret berupa modernisasi sistem pertanian atau smart farming. Pendekatan berbasis teknologi modern ini diyakini mampu mengikis citra pertanian yang terkesan tradisional dan kumal, sekaligus meningkatkan efisiensi serta profitabilitas usaha tani secara signifikan.

Selain penerapan teknologi, dukungan akses pembiayaan dan pendampingan kewirausahaan bagi petani muda menjadi kunci penting. Skema kredit usaha rakyat di sektor pertanian serta pelatihan manajemen bisnis harus diperluas agar para pemuda diposisikan sebagai manajer agribisnis, bukan sekadar buruh tani harian. Pembentukan komoditas bernilai tambah tinggi seperti hortikultura organik dan tanaman hidroponik juga menjadi peluang menjanjikan yang cocok dengan karakter pemuda kota.

Langkah edukasi serta promosi keberhasilan para petani muda yang telah sukses perlu digencarkan melalui media sosial dan forum akademis. Dengan memperlihatkan bahwa sektor pertanian mampu menghasilkan keuntungan finansial yang menjanjikan serta fleksibilitas kerja yang tinggi, persepsi negatif di kalangan generasi muda diharapkan dapat perlahan bergeser. Sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan pendampingan berkelanjutan dari penyuluh lapangan akan menjadi penentu utama dalam melahirkan generasi baru petani muda yang mandiri, adaptif, dan berdaya saing tinggi di Kota Tegal.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *