Kebakaran Lahan di Sruweng Kebumen Hanguskan Pohon Jenitri

oleh -10 Dilihat

Kebakaran hebat melanda kawasan perbukitan di Dusun Medana, Desa Donosari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Kamis (24/9/2026). Peristiwa yang terjadi di tengah musim kemarau ini menghanguskan sedikitnya 1,5 hektare lahan serta merusak puluhan pohon jenitri milik warga setempat. Petugas gabungan bersama masyarakat sekitar harus berjuang ekstra keras untuk menjinakkan kobaran api yang cepat merambat akibat tiupan angin kencang.

Kronologi dan Upaya Pemadaman di Medan Sulit

Kebakaran pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang melihat kepulan asap tebal membubung tinggi dari arah perbukitan Dusun Medana. Kondisi vegetasi yang kering akibat kemarau panjang membuat api dengan sangat cepat menjalar ke berbagai arah. Menyadari bahaya yang mengancam pemukiman, warga segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak pemadam kebakaran dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen.

banner 336x280

Tak lama setelah laporan diterima, petugas pemadam kebakaran bersama personel TNI, Polri, relawan, dan warga setempat langsung bergerak ke lokasi kejadian. Namun, upaya pemadaman tidak berjalan mudah karena lokasi kebakaran berada di area perbukitan yang memiliki kemiringan cukup curam. Akses jalan yang sempit dan terjal menyulitkan armada mobil pemadam kebakaran untuk menjangkau titik api secara langsung.

Akibat kendala akses tersebut, petugas dan warga terpaksa menggunakan metode manual untuk melokalisasi perambatan api. Dengan menggunakan peralatan seadanya seperti gepyok (alat pemukul api dari bambu atau dahan basah) dan membuat sekat bakar, mereka bahu-membahu memutus jalur api agar tidak meluas ke area hutan milik Perhutani maupun pemukiman warga yang berada di bawah bukit. Setelah beberapa jam berjuang melawan cuaca panas dan asap pekat, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Dampak Kerugian dan Nilai Ekonomis Pohon Jenitri

Selain menghanguskan lahan semak belukar seluas 1,5 hektare, bencana kebakaran ini juga membawa kerugian ekonomi yang signifikan bagi petani setempat. Tercatat sedikitnya 50 pohon jenitri yang siap panen ludes terbakar dan dipastikan mati. Bagi masyarakat Kebumen, khususnya di wilayah perbukitan seperti Sruweng, pohon jenitri bukan sekadar tanaman biasa, melainkan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang menjadi penopang ekonomi keluarga.

Biji jenitri, yang juga dikenal secara internasional sebagai rudraksha, memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar ekspor, terutama ke negara-negara seperti India, Nepal, dan Tiongkok. Biji ini banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan alat ibadah, perhiasan, serta kerajinan tangan bernilai seni tinggi. Kehilangan puluhan pohon yang sudah produktif tentu menjadi pukulan telak bagi para petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen komoditas ini.

Proses pemulihan lahan dan penanaman kembali pohon jenitri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Petani harus menunggu bertahun-tahun agar bibit baru dapat tumbuh besar dan menghasilkan biji berkualitas tinggi kembali. Kerugian materiil akibat peristiwa ini diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, belum termasuk hilangnya potensi pendapatan berkelanjutan dari hasil panen di musim-musim berikutnya.

Pentingnya Kewaspadaan Terhadap Karhutla di Musim Kemarau

Peristiwa kebakaran di Kecamatan Sruweng ini menjadi alarm keras bagi seluruh masyarakat dan pemerintah daerah mengenai tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Cuaca ekstrem yang memicu kekeringan membuat daun-daun kering, ranting, dan semak belukar menjadi sangat mudah terbakar hanya karena percikan api kecil. Oleh karena itu, kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan menjadi kunci utama pencegahan bencana serupa di masa mendatang.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah di dekat area vegetasi kering, membuang puntung rokok sembarangan, atau membuka lahan pertanian baru dengan cara dibakar. Kelalaian kecil dalam kondisi cuaca kering dan berangin kencang dapat dengan cepat berubah menjadi bencana besar yang merusak ekosistem dan merugikan perekonomian warga.

Ke depan, penguatan mitigasi bencana berbasis masyarakat perlu terus ditingkatkan. Pembentukan kelompok relawan peduli api di tingkat desa dinilai sangat efektif untuk melakukan deteksi dini dan penanganan awal sebelum api membesar. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat, diharapkan risiko bencana kebakaran lahan di wilayah perbukitan Kebumen dapat diminimalisasi secara signifikan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *