Jerit Ojol Maxim Tegal: Tuntut Program Turbo Dihapus

oleh -5 Dilihat

Para pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam kemitraan Maxim di Kota Tegal, Jawa Tengah, mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal pada Selasa (22/9) siang. Kehadiran mereka di Ruang Rapat Komisi III tersebut bertujuan untuk menyampaikan keluh kesah serta tuntutan terkait menurunnya pendapatan mereka secara drastis akibat kebijakan sistem aplikasi yang dinilai merugikan.

Dampak Program Turbo Terhadap Pendapatan Driver

Dalam audiensi tersebut, para driver mengungkapkan bahwa mereka kini kesulitan mendapatkan orderan meskipun telah bersiap dan mangkal seharian penuh di berbagai sudut kota. Penyebab utama dari sepinya orderan ini diduga kuat karena adanya “Program Turbo”, sebuah sistem prioritas yang diterapkan oleh aplikator Maxim. Program ini dinilai menciptakan ketimpangan yang tajam antara driver yang mengaktifkan fitur tersebut dengan driver reguler yang tidak menggunakannya.

banner 336x280

Menurut perwakilan driver, Program Turbo memaksa mereka untuk mengeluarkan biaya tambahan atau memenuhi syarat tertentu yang memberatkan agar akun mereka mendapatkan prioritas orderan. Bagi driver yang tidak mampu atau memilih tidak mengikuti program ini, akun mereka seolah “dimatikan” atau dilewati oleh sistem algoritma aplikasi. Akibatnya, banyak driver reguler yang harus pulang dengan tangan hampa setelah seharian menunggu di jalanan tanpa satu pun penumpang atau pesanan makanan yang masuk.

Tuntutan Penghapusan Program Turbo dan Mediasi DPRD

Menanggapi situasi yang kian menjepit perekonomian keluarga mereka, para driver ojol Maxim Tegal mendesak agar Program Turbo segera dihapus dari sistem aplikasi. Mereka menginginkan sistem pembagian orderan yang adil dan merata berdasarkan jarak terdekat antara driver dan konsumen, bukan berdasarkan status akun prioritas yang berbayar. Tuntutan ini disampaikan langsung kepada para anggota Komisi III DPRD Kota Tegal dengan harapan pihak legislatif dapat menjembatani komunikasi dengan manajemen aplikator.

Pihak Komisi III DPRD Kota Tegal menyambut baik aspirasi para driver dan berjanji akan segera menindaklanjuti laporan ini. Anggota dewan menyatakan akan mengundang pihak manajemen Maxim cabang Tegal untuk memberikan klarifikasi serta mencari solusi bersama yang tidak merugikan para mitra pengemudi di lapangan. DPRD menegaskan bahwa kehadiran transportasi online seharusnya membantu perekonomian masyarakat lokal, bukan justru membebani mereka dengan sistem kemitraan yang tidak transparan.

Realita Pahit Pekerja Gig di Sektor Transportasi Online

Fenomena yang terjadi di Tegal ini mencerminkan masalah yang lebih besar dalam industri transportasi online di Indonesia. Hubungan kemitraan antara aplikator dan driver sering kali dinilai timpang, di mana aplikator memiliki kendali penuh atas algoritma dan tarif, sementara driver menanggung seluruh risiko operasional seperti biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, dan keselamatan di jalan. Ketika aplikator meluncurkan fitur baru seperti Program Turbo, driver kerap tidak memiliki pilihan selain tunduk pada aturan tersebut meskipun merugikan kantong mereka.

Tanpa adanya regulasi yang kuat dari pemerintah daerah maupun pusat mengenai batas minimal pendapatan dan transparansi algoritma, konflik antara driver dan aplikator diprediksi akan terus berulang. Para driver ojol di berbagai daerah kini semakin vokal dalam menuntut hak-hak mereka, mulai dari penyesuaian tarif yang layak hingga penghapusan sistem potongan komisi yang terlalu tinggi.

Pertemuan di DPRD Kota Tegal ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membenahi ekosistem kerja ojek online di wilayah tersebut. Para driver berharap manajemen Maxim dapat mendengarkan jeritan hati mereka di lapangan dan mengembalikan sistem pembagian orderan yang adil, sehingga mereka dapat kembali menafkahi keluarga dengan layak tanpa harus terbebani oleh sistem prioritas yang diskriminatif.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *