Sebanyak tujuh siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Maitan 01, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, dilaporkan mengalami gejala mual hingga muntah-muntah. Peristiwa ini terjadi setelah mereka mengonsumsi susu kemasan yang dibagikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (17/9/2026). Kejadian ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan orang tua murid dan pihak sekolah setempat.
Kronologi Kejadian dan Kondisi Korban
Peristiwa ini bermula ketika pihak sekolah membagikan paket makanan dan minuman dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada para siswa. Salah satu menu yang dibagikan adalah susu kemasan. Tidak lama setelah mengonsumsi susu tersebut, beberapa siswa mulai mengeluhkan rasa mual yang hebat, yang kemudian diikuti dengan muntah-muntah. Pihak sekolah segera mengambil tindakan cepat dengan memberikan pertolongan pertama dan membawa siswa yang terdampak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Hal yang mengejutkan dari kejadian ini adalah kondisi fisik dari kemasan susu tersebut. Berdasarkan pemeriksaan awal pada kemasan produk, tanggal kedaluwarsa yang tertera masih sangat lama, yaitu hingga tahun 2027. Secara administratif, susu tersebut seharusnya masih sangat layak dan aman untuk dikonsumsi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya reaksi keracunan pada tubuh para siswa setelah meminumnya.
Kasus ini kini tengah dalam penanganan serius oleh pihak berwenang, termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat. Sampel susu yang dikonsumsi oleh para siswa telah diamankan untuk dilakukan uji laboratorium guna mengetahui penyebab pasti dari kontaminasi tersebut. Pihak medis juga terus memantau kondisi kesehatan ketujuh siswa agar dapat pulih sepenuhnya tanpa adanya komplikasi lebih lanjut.
Penyebab Potensial Kerusakan Produk Sebelum Kedaluwarsa
Meskipun tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan menunjukkan tahun 2027, ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan produk susu formula atau susu cair kemasan mengalami kerusakan sebelum waktunya. Salah satu faktor utama adalah kesalahan dalam proses distribusi dan penyimpanan (storage). Susu kemasan sangat sensitif terhadap perubahan suhu ekstrem dan paparan sinar matahari langsung. Jika produk disimpan di tempat yang lembap atau terlalu panas selama proses pengiriman, bakteri dapat berkembang biak di dalamnya meskipun kemasan masih tertutup rapat.
Selain masalah suhu, kerusakan mikro pada kemasan juga sering menjadi penyebab utama kontaminasi. Kebocoran halus yang tidak kasat mata pada segel kemasan dapat membuat udara luar masuk ke dalam. Udara yang membawa spora jamur dan bakteri ini akan merusak kandungan nutrisi susu dan memicu proses pembusukan. Oleh karena itu, pengawasan kualitas (quality control) tidak hanya harus dilakukan di tingkat pabrik, tetapi juga di sepanjang rantai pasok hingga produk tersebut sampai ke tangan konsumen, dalam hal ini adalah anak-anak sekolah.
Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif strategis pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. Program ini diharapkan dapat menekan angka tengkes (stunting) dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Namun, insiden yang terjadi di SDN Maitan 01 Pati ini menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan mengenai pentingnya standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam penyediaan makanan.
Keamanan pangan (food safety) harus menjadi prioritas mutlak dalam pelaksanaan program berskala nasional ini. Setiap vendor atau penyedia jasa katering dan logistik yang ditunjuk wajib memastikan bahwa seluruh bahan makanan dan minuman yang disajikan berada dalam kondisi prima. Diperlukan adanya sistem pengawasan berlapis, mulai dari pemeriksaan tanggal kedaluwarsa, kondisi fisik kemasan, hingga uji organoleptik sederhana (rasa, bau, dan warna) sebelum makanan dibagikan kepada para siswa.
Menyikapi kejadian ini, masyarakat dan para orang tua murid mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyedia program MBG di wilayah Pati. Pengawasan yang lebih ketat diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di sekolah lain. Selain itu, edukasi kepada guru dan siswa mengenai cara mengenali makanan atau minuman yang sudah tidak layak konsumsi juga perlu ditingkatkan untuk meminimalkan risiko di masa mendatang.






