Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 yang berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi panggung persaingan seni membaca Al-Qur’an yang ketat. Di sela-sela ketegangan kompetisi, para kafilah dari berbagai provinsi di Indonesia diajak untuk sejenak melepas penat dengan menikmati keindahan pariwisata lokal. Salah satu destinasi utama yang dikunjungi adalah Desa Wisata Kandri di Kecamatan Gunungpati, di mana para peserta diajak bermain permainan tradisional atau “dolanan” yang seru dan edukatif.
Keseruan Permainan Tradisional di Desa Wisata Kandri
Suasana ceria dan penuh tawa tampak jelas di Omah Alas, salah satu spot andalan di Desa Wisata Kandri, Gunungpati. Puluhan kafilah yang biasanya tampil formal dan fokus penuh di arena lomba, kini terlihat santai dan membaur dengan alam sekitar. Mereka mencoba berbagai permainan tradisional Jawa yang sarat akan nilai kebersamaan, sportivitas, dan ketangkasan. Aktivitas ini dirancang khusus untuk mengembalikan kesegaran pikiran para peserta setelah berhari-hari berkonsentrasi dalam babak penyisihan hingga final MTQ.
Desa Wisata Kandri sendiri dikenal sebagai salah satu desa wisata percontohan di Kota Semarang yang masih mempertahankan kearifan lokal dan kelestarian alamnya. Dengan latar belakang persawahan yang hijau dan udara perbukitan yang sejuk, tempat ini menjadi lokasi yang sangat ideal untuk relaksasi. Para kafilah tidak hanya sekadar bermain, tetapi juga belajar mengenai kebudayaan lokal, cara hidup masyarakat pedesaan, serta menikmati kuliner tradisional khas Gunungpati yang disajikan dengan ramah oleh warga setempat.
Menjelajahi Keindahan Goa Kreo dan Sejarah Kota Lama
Selain menikmati keseruan dolanan di Desa Wisata Kandri, agenda wisata para kafilah MTQ Nasional ini juga mencakup kunjungan ke destinasi ikonik lainnya di Semarang, seperti Goa Kreo dan kawasan bersejarah Kota Lama. Goa Kreo, yang terletak tidak jauh dari Desa Kandri, menawarkan pemandangan alam yang memesona dengan keberadaan kawanan monyet ekor panjang yang ramah serta Waduk Jatibarang yang membentang indah. Kunjungan ke Goa Kreo memberikan pengalaman petualangan alam yang unik bagi para peserta yang berasal dari luar Pulau Jawa.
Setelah menikmati wisata alam, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Kota Lama Semarang. Di tempat ini, para kafilah diajak menelusuri lorong waktu melalui bangunan-bangunan megah berarsitektur kolonial Belanda yang masih terawat dengan baik. Kawasan yang sering dijuluki “Little Netherlands” ini memberikan perspektif sejarah yang mendalam mengenai perkembangan Kota Semarang sebagai salah satu pusat perdagangan penting di masa lampau. Kombinasi antara wisata alam, budaya, dan sejarah ini memberikan kesan mendalam bagi seluruh rombongan kafilah.
Dampak Positif Wisata Terhadap Sektor Ekonomi Lokal
Kegiatan wisata yang diintegrasikan ke dalam rangkaian acara MTQ Nasional XXXI ini membawa dampak yang sangat positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Semarang. Kehadiran ribuan kafilah, ofisial, dan pendukung dari seluruh penjuru tanah air menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mulai dari penyedia jasa transportasi, pemandu wisata lokal, pengelola destinasi wisata, hingga pedagang suvenir dan kuliner khas Semarang mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan selama berlangsungnya acara.
Pemerintah Kota Semarang bersama pengelola desa wisata berharap bahwa promosi pariwisata melalui ajang nasional seperti ini dapat terus berlanjut. Dengan memperkenalkan potensi wisata daerah kepada para tamu dari berbagai provinsi, diharapkan mereka akan menceritakan pengalaman positif ini sekembalinya ke daerah asal masing-masing. Hal ini secara tidak langsung menjadi strategi pemasaran pariwisata yang sangat efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di masa mendatang.
Secara keseluruhan, inisiatif untuk mengajak para kafilah MTQ Nasional berwisata dan bermain di Desa Wisata Kandri membuktikan bahwa ajang keagamaan tingkat nasional juga dapat disinergikan dengan sektor pariwisata. Kegiatan ini tidak hanya berhasil mengusir rasa lelah dan jenuh para peserta setelah berkompetisi, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarkafilah dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Melalui pengalaman berharga ini, para peserta pulang tidak hanya membawa prestasi, tetapi juga kenangan indah tentang keramahan dan keindahan Kota Semarang.






