Kebakaran TPA Randukuning Batang, Api Masih Bermunculan

oleh -4 Dilihat

Peristiwa kebakaran kembali melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Randukuning di Kabupaten Batang pada Minggu, 13 September 2026. Kobaran api dan asap tebal yang membumbung tinggi memaksa petugas pemadam kebakaran bersama tim gabungan bekerja ekstra keras hingga tengah malam demi menjinakkan titik-titik api yang terus bermunculan di area tumpukan sampah tersebut.

Perjuangan Petugas dan Tantangan Pemadaman di Lokasi TPA

Proses pemadaman kebakaran di lokasi pembuangan sampah akhir selalu menyajikan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan kebakaran bangunan pemukiman biasa. Upaya melokalisasi kobaran api di TPA Randukuning membutuhkan pasokan air yang sangat besar serta armada kendaraan pemadam yang harus berulang kali mengangkut air dari sumber terdekat. Medan TPA yang tidak stabil, disertai timbunan sampah yang rapuh dan berisiko longsor, makin menyulitkan pergerakan personel di lapangan. Petugas harus melangkah sangat hati-hati di tengah gumpalan asap pekat yang mengganggu jarak pandang dan pernapasan.

banner 336x280

Hingga larut malam, sejumlah titik api baru dilaporkan masih terus bermunculan dari balik gundukan sampah. Fenomena ini kerap terjadi karena material di bagian bawah timbunan sampah mengering dan menyerap panas tinggi akibat cuaca atau terik matahari. Angin malam yang bertiup kencang turut memicu bara api yang tersimpan di dalam tumpukan untuk kembali menyala secara tiba-tiba. Tim gabungan yang terdiri dari pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, serta pengelola TPA terpaksa membagi fokus antara memadamkan api utama dan menyiram area di sekitarnya guna mencegah perluasan area terbakar.

Selain penyiraman air secara masif, metode penutupan dengan tanah atau lumpur sering kali menjadi opsi krusial dalam mengatasi kebakaran di TPA. Langkah ini dilakukan untuk memutus suplai oksigen ke lapisan sampah bawah tanah sehingga bara api tidak terus membara. Namun, pengerjaan metode ini membutuhkan alat berat serta koordinasi yang matang agar area yang belum terbakar tidak ikut terpapar atau tertutup materi panas yang berpotensi memicu api baru di kemudian hari.

Penyebab Utama dan Risiko Bahaya Gas Metana di TPA

Kebakaran pada area pembuangan sampah akhir umumnya erat kaitannya dengan pembentukan gas metana (CH4) secara alami. Di dalam tumpukan sampah terpadu yang membusuk tanpa pasokan oksigen yang cukup melalui proses anaerobik, mikroorganisme memproduksi gas metana dalam jumlah berlimpah. Gas metana merupakan senyawa hidrokarbon yang sangat mudah terbakar dan memiliki sifat tidak berwarna serta tidak berbau. Ketika suhu udara di sekitar TPA meningkat secara drastis, gesekan material kering atau adanya percikan api sekecil apa pun dapat dengan cepat menyulut timbunan gas metana yang terperangkap di dalam tumpukan sampah.

Kondisi ini makin diperparah apabila TPA masih menerapkan sistem pembukaan lahan terbuka atau open dumping, di mana sampah organik dan anorganik bercampur tanpa ada saluran pelepasan gas metana yang memadai. Ketika bagian permukaan sampah terbakar, api dapat merambat jauh ke lapisan dalam atau kebakaran bawah permukaan (subsurface fire). Kebakaran jenis ini sangat sulit terdeteksi dari luar dan dapat bertahan hingga berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu meskipun bagian permukaan tampak sudah padam dan hanya menyisakan kepulan asap tipis.

Dampak Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, dan Langkah Mitigasi

Bencana kebakaran TPA tidak hanya merusak fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga membawa dampak serius bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai zat beracun, termasuk karbon monoksida, dioksin, furan, dan partikel mikro (PM2.5) yang berasal dari limbah plastik serta bahan kimia berbahaya lainnya. Paparan asap ini dalam jangka pendek dapat memicu gangguan saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, mual, serta pusing bagi warga yang tinggal di pemukiman sekitar TPA Randukuning.

Oleh karena itu, pemerintah daerah dan instansi terkait diimbau untuk segera membagikan masker medis atau masker N95 kepada warga di kawasan terdampak asap, serta mendirikan posko kesehatan darurat jika diperlukan. Masyarakat juga diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menutup celah ventilasi rumah untuk meminimalkan masuknya partikulat asap beracun ke dalam tempat tinggal.

Ke depan, peristiwa kebakaran di TPA Randukuning ini menjadi peringatan penting akan krusialnya pembenahan manajemen sampah secara menyeluruh di Kabupaten Batang. Modernisasi infrastruktur TPA menuju sistem sanitary landfill yang dilengkapi pipa ventilasi pembuangan gas metana serta kolam penampungan air lindi menjadi kebutuhan mendesak. Di samping itu, edukasi masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga harus terus digalakkan agar beban tumpukan sampah dan potensi pembentukan gas metana yang membahayakan di TPA dapat dikurangi secara signifikan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *