Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Surakarta, Jawa Tengah, terus memicu perhatian serius dari pihak berwenang. Hingga hari kelima pasca-kejadian, kobaran api dan kepulan asap tebal belum sepenuhnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan di lapangan. Mengingat luasan area yang terbakar semakin membesar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mengambil langkah percepatan penanganan dengan menyiapkan skema pemadaman berskala besar, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Langkah darurat ini diambil lantaran metode pemadaman darat dan pemanduan udara yang telah dilakukan sebelumnya masih menghadapi kendala kondisi alam. Penanganan intensif ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran (Damkar), TNI, Polri, hingga para relawan yang terus bekerja keras di lokasi kejadian.
Percepatan Penanganan Pemadaman Darat dan Udara
Upaya memadamkan kebakaran di TPA Putri Cempo bukanlah hal yang mudah. Gunungan sampah yang didominasi bahan plastik dan material mudah terbakar menciptakan tumpukan yang sangat tebal. Kondisi ini menyebabkan api tidak hanya membakar bagian permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah gunungan sampah atau dikenal sebagai kebakaran bawah permukaan (underground fire).
Untuk mengatasi kendala tersebut, puluhan armada pemadam kebakaran dari Surakarta dan wilayah sekitarnya terus dikerahkan ke lokasi. Ribuan liter air disemprotkan setiap hari ke titik-titik api utama. Kendati demikian, tiupan angin kencang serta suhu udara yang tinggi akibat musim kemarau sering kali memicu kembali timbulnya titik api baru di area yang sebelumnya sempat dipadamkan.
Selain penanganan dari jalur darat, pemerintah juga mengerahkan helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara menggunakan teknik water bombing. Metode bom air ini diharapkan mampu menjangkau titik api di bagian tengah TPA yang sulit dijangkau oleh armada pemadam darat. Kombinasi serangan darat dan udara ini menjadi strategi awal untuk menahan laju penyebaran api yang kian meluas.
Operasi Modifikasi Cuaca Diterapkan untuk Hujan Buatan
Melihat kondisi kebakaran yang terbilang meluas dan sulit dipadamkan secara total, Pemprov Jawa Tengah mematangkan persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyiapan OMC ini ditargetkan mulai beroperasi pada 9 hingga 10 September 2026. Langkah ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Melalui Operasi Modifikasi Cuaca, penyemaian garam khusus (NaCl) akan dilakukan di awan-awan potensial di atas kawasan Surakarta dan sekitarnya. Tujuannya adalah memicu terjadinya hujan buatan yang intensif tepat di atas area TPA Putri Cempo. Hujan deras yang dihasilkan diharapkan mampu membasahi seluruh permukaan TPA secara merata hingga meresap ke dalam tumpukan sampah, sehingga memadamkan bara api di lapisan bawah yang tidak tersentuh air pemadam biasa.
Penerapan OMC dinilai sebagai langkah strategis dalam kondisi darurat seperti saat ini. Selain memadamkan api secara menyeluruh, hujan deras juga sangat efektif untuk menyapu kepulan asap dan partikel berbahaya yang melayang di udara, sehingga dapat memulihkan kualitas udara di kawasan permukiman warga.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat Sekitar
Kebakaran yang berlangsung berhari-hari ini membawa dampak signifikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan TPA Putri Cempo. Asap pekat berbahan kimia hasil pembakaran sampah organik dan anorganik menyebar ke area permukiman warga di sekitar lokasi bencana.
Masyarakat mengeluhkan penurunan kualitas udara yang memicu gangguan pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan bau menyengat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Menanggapi kondisi tersebut, jajaran pemerintah daerah bersama dinas kesehatan telah mendirikan posko kesehatan darurat dan membagikan masker secara gratis kepada warga terdampak.
Warga yang berdomisili di sekitar lokasi diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu menggunakan masker berstandar guna meminimalisasi paparan racun dari asap pembakaran sampah.
Tantangan Pengelolaan Sampah saat Musim Kemarau
Peristiwa kebakaran TPA Putri Cempo kembali menegaskan tingginya risiko bencana di tempat pembuangan sampah saat musim kemarau tiba. Tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana secara alami. Gas metana merupakan jenis gas yang sangat mudah terbakar, terutama ketika terperangkap dalam suhu panas yang ekstrem.
Ketika terdapat pemicu sekecil apa pun, baik akibat gesekan material maupun suhu panas matahari yang tinggi, gas metana dapat langsung menyulut kobaran api besar yang sulit dikendalikan. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap manajemen pengelolaan sampah, sistem pemantauan gas metana, serta penyediaan fasilitas tanggap darurat di area TPA menjadi prioritas penting pasca-bencana.
Pemerintah berharap dengan pengerahan seluruh sumber daya—mulai dari tim pemadam darat, pemadaman udara dengan water bombing, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca—kebakaran di TPA Putri Cempo dapat segera dipadamkan secara total. Langkah pembenahan sistem pengelolaan sampah terpadu diharapkan mampu mencegah berulangnya insiden serupa di masa mendatang.






