Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) mengerahkan armada helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara atau water bombing dalam upaya menanggulangi kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Surakarta. Langkah cepat ini diambil guna mempercepat pemadaman api di titik-titik yang sulit dijangkau oleh personel pemadam kebakaran jalur darat.
Strategi Pemadaman Udara Memanfaatkan Aliran Bengawan Solo
Proses pemadaman udara ini dilakukan dengan memanfaatkan pasokan air dari aliran Sungai Bengawan Solo yang berlokasi tidak jauh dari kawasan TPA Putri Cempo. Helikopter milik Polda Jateng tampak melakukan manuver pengerukan air menggunakan kantong khusus (bambi bucket) sebelum menerbangkannya ke titik-titik krusial kebakaran. Pengambilan air secara berulang di aliran sungai terbesar di Pulau Jawa tersebut dinilai sangat efisien untuk mempercepat interval pengeboman air ke pusat kobaran api.
Pengerahan metode water bombing ini menjadi salah satu opsi taktis mengingat area gunungan sampah yang terbakar sangat luas dan tebal. Akses darat yang terbatas serta tingginya risiko ambles pada tumpukan sampah membuat mobil pemadam kebakaran kesulitan untuk merangsek masuk hingga ke bagian tengah TPA. Oleh karena itu, sinergi antara tim pemadam darat yang terdiri dari jajaran Polda Jateng, BPBD, Pemadam Kebakaran Kota Surakarta, TNI, dan relawan dengan unit pemadam udara menjadi kunci utama dalam mengendalikan peredaran api.
Ancaman Gas Metana dan Tantangan Pemadaman Darat
Kebakaran di fasilitas penampungan sampah seperti TPA Putri Cempo memiliki karakteristik yang sangat kompleks dibandingkan dengan kebakaran pemukiman atau lahan biasa. Tumpukan sampah yang mengendap selama puluhan tahun mengandung konsentrasi gas metana yang sangat tinggi di bagian dalamnya. Gas metana yang terperangkap ini bersifat amat mudah terbakar dan kerap memicu munculnya titik api baru di bawah permukaan (subsurface fire), meskipun bagian atas tumpukan sampah tampak sudah berhasil dipadamkan.
Kondisi cuaca terik dan angin kencang di kawasan Mojosongo juga turut mempercepat penyebaran material sampah yang terbakar ke area sekitar. Para petugas pemadam kebakaran di lapangan dituntut ekstra waspada karena selain suhu panas yang ekstrem, asap pekat yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik dan bahan kimia berbahaya lainnya dapat membahayakan keselamatan serta kesehatan sistem pernapasan.
Dampak Asap Tebal dan Pengawasan Kesehatan Masyarakat
Asap tebal akibat kebakaran TPA Putri Cempo telah berdampak pada penurunan kualitas udara di wilayah permukiman sekitar TPA hingga ke beberapa area di Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar. Kepulan asap putih keabu-abuan yang membubung tinggi tidak hanya mengganggu jarak pandang kendaraan di jalan raya, tetapi juga berpotensi memicu timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagi warga masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Menanggapi situasi tersebut, pihak kepolisian bersama dinas kesehatan daerah mengimbau masyarakat di sekitar lokasi kejadian untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan wajib menggunakan masker medis atau masker N95. Pemerintah daerah juga menyiapkan posko kesehatan darurat dan tim medis keliling untuk memantau kondisi kesehatan warga terdampak serta menyalurkan bantuan logistik berupa masker dan obat-obatan dasar.
Evaluasi Pengelolaan TPA dan Mitigasi Bencana Berkelanjutan
Insiden kebakaran yang melanda TPA Putri Cempo ini menjadi pengingat krusial akan pentingnya sistem pengawasan dan mitigasi bencana kebakaran di area fasilitas pengelolaan sampah secara berkala. Penanganan komprehensif tidak hanya berhenti pada tahap pemadaman api semata, melainkan juga harus mencakup langkah pendinginan (cooling down) secara menyeluruh agar tidak ada sisa bara api yang terisolasi di dalam tumpukan sampah.
Ke depan, optimalisasi fasilitas penanganan sampah modern dan tata kelola pembentukan gas metana di kawasan TPA Putri Cempo harus terus dipacu guna mencegah berulangnya bencana serupa. Sinergi lintas instansi yang ditunjukkan oleh Polda Jateng, pemerintah daerah, dan unsur relawan diharapkan mampu menuntaskan proses pemadaman secara penuh, menjaga keselamatan warga, serta memulihkan stabilitas lingkungan di Surakarta dan sekitarnya.






