ASLIBATANG.COM, BATANG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mengkaji secara intensif penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) atau Industropolis Batang.
Langkah ini diarahkan untuk menghubungkan kawasan industri berskala nasional tersebut dengan sejumlah simpul logistik utama.
Sistem intermoda yang digagas mencakup integrasi dry port, pelabuhan laut, jaringan kereta api, kawasan pergudangan, hingga layanan trucking terpadu.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa penguatan konektivitas ini sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran arus barang dari pusat industri menuju pasar domestik maupun mancanegara.
“Kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien. KAI melihat kereta api memiliki ruang besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang,” ujar Anne Purba dalam keterangan resminya, Rabu (26/8/2026).
Kajian strategis ini mengikutsertakan kolaborasi lintas BUMN dan BUMD, di antaranya KAI, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) atau SPJT, Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang, serta manajemen PT Kawasan Industri Terpadu Batang.
Bidik Rute Logistik Tanjung Priok, Tanjung Perak, hingga Patimban
Dalam pembahasan awal, sejumlah titik tujuan utama telah masuk dalam daftar alternatif rute konektivitas angkutan barang dari KITB.
Rute-rute strategis tersebut meliputi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, serta Pelabuhan Patimban di Jawa Barat.
Pelabuhan Tanjung Priok dinilai sangat krusial untuk memperkuat akses distribusi produk industri dari KITB menuju jalur perdagangan internasional.
Sementara itu, Tanjung Perak/Kalimas akan membuka gerbang ekspansi distribusi ke kawasan timur Pulau Jawa, sedangkan Patimban bakal dianalisis berdasar kebutuhan spesifik dari para penyewa (tenant) di KITB.
Pengalaman KAI dalam mengelola angkutan barang volume besar menjadi modal berharga.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, KAI tercatat telah melayani pengangkutan barang hingga mencapai 38.648.919 ton di seluruh Indonesia.
Dari total angka tersebut, sebanyak 31,66 juta ton merupakan komoditas batu bara, sedangkan 6,98 juta ton sisanya merupakan komoditas nonbatu bara seperti peti kemas, semen, BBM, hasil perkebunan, dan barang ritel.
Pertimbangkan Efisiensi Jarak dan Skema Intermoda
Meski memiliki kapasitas angkut raksasa, Anne menjelaskan bahwa moda kereta api tidak serta-merta diterapkan untuk seluruh rute.
KAI akan melakukan perhitungan matang mengenai jarak tempuh, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, hingga efisiensi rantai logistik secara menyeluruh.
Relasi pengiriman dengan jarak di atas 150 hingga 200 kilometer menjadi fokus pendalaman utama penggunaan kereta api.
Adapun untuk tujuan yang relatif dekat seperti Kota Semarang dan Pelabuhan Tanjung Emas, skema moda akan dibandingkan agar menemukan opsi distribusi paling efektif.
Pengembangan ini sangat selaras dengan roadmap ekosistem logistik Industropolis Batang yang mencakup fasilitas seaport, dry port, warehouse, container yard, hingga tempat parkir truk.
Layanan pelabuhan (seaport) kawasan diketahui telah mulai beroperasi sejak 2025, sementara fasilitas dry port ditargetkan dapat beroperasi secara bertahap pada 2028 mendatang.
KAI bersama KAI Logistik kini fokus mendalami kesiapan teknis integrasi jalur rel ke area dry port serta mematangkan layanan end-to-end demi mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Batang. (*)






