Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menggelar kegiatan Ngaji Kebangsaan bersama ulama karismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, di Pondok Pesantren LP3iA Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Acara spiritual dan kebangsaan ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memperkuat keimanan serta ketakwaan seluruh personel Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Penguatan Keimanan dan Pengabdian Personel Polri
Penguatan fondasi spiritual dinilai menjadi elemen yang sangat krusial bagi anggota kepolisian dalam menghadapi berbagai dinamika dan tantangan tugas yang semakin kompleks di lapangan. Melalui kegiatan Ngaji Kebangsaan ini, jajaran kepolisian diajak untuk merenungkan kembali hakikat pelayanan publik yang tidak hanya berlandaskan pada hukum positif dan standar operasional prosedur semata, tetapi juga didasari oleh nilai-nilai ibadah, keikhlasan, serta tanggung jawab moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam menjalankan fungsi penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat, seorang personel Polri dituntut untuk memiliki ketahanan mental serta integritas yang teguh. Landasan keimanan yang kokoh diharapkan mampu mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang dan meningkatkan sensitivitas kemanusiaan saat menangani berbagai permasalahan sosial di tengah masyarakat. Dengan demikian, pendekatan penegakan hukum yang humanis dan berkeadilan dapat terwujud secara optimal.
Selain itu, pimpinan Polri menekankan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini menjadi sarana pemulihan rohani (spiritual recharging) bagi para personel di tengah kesibukan serta tekanan kerja yang tinggi. Ketika mental dan spiritual berada dalam kondisi yang berimbang, maka kinerja kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) akan semakin efektif, bijaksana, dan menyejukkan.
Sinergi Ulama dan Umara Menjaga Kondusivitas Bangsa
Hubungan yang harmonis antara ulama sebagai tokoh agama dan umara sebagai aparat penegak hukum merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kehadiran Kapolri di kediaman dan pesantren Gus Baha menegaskan komitmen Polri untuk terus merawat komunikasi yang intensif serta bersinergi secara berkelanjutan dengan para ulama dan tokoh masyarakat di pelbagai daerah.
Ulama memiliki peran sentral dalam membimbing umat, meredam potensi konflik sosial, serta menyebarkan pencerahan mengenai pentingnya toleransi dan persatuan. Di sisi lain, kepolisian membutuhkan dukungan moral dan nasihat dari para ulama agar setiap kebijakan serta langkah pengamanan yang diambil senantiasa selaras dengan kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Sinergitas yang kuat antara Polri dan tokoh agama ini juga terbukti efektif dalam meminimalisasi potensi pemicu disintegrasi bangsa, seperti penyebaran paham radikalisme, intoleransi, serta berita bohong (hoaks) yang acapkali mengancam kerukunan beragama dan berbangsa. Kerjasama ini menciptakan suasana sejuk yang menentramkan masyarakat di tingkat akar rumput.
Nasihat Menyejukkan dari Gus Baha dan Islam Wasathiyah
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dikenal secara luas sebagai ulama ahli tafsir Al-Qur’an yang menyampaikan dakwah dengan gaya yang lugas, rasional, dan senantiasa mengedepankan nilai-nilai Islam Wasathiyah (Islam jalan tengah atau moderat). Dalam pengajian tersebut, Gus Baha memberikan pencerahan mengenai pentingnya niat tulus dalam mengabdi kepada negara serta bagaimana tugas-tugas menjaga keamanan dapat bernilai pahala yang besar jika dijalankan dengan ikhlas dan adil.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa keberadaan aparat keamanan yang adil dan mengayomi merupakan salah satu pilar penting bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan beragama. Tanpa adanya rasa aman dan ketertiban, pelaksanaan ibadah dan roda perekonomian masyarakat tidak dapat berjalan dengan tenang dan harmonis. Oleh sebab itu, tugas aparat penegak hukum dinilai sangat mulia selama diniatkan untuk kemaslahatan bersama.
Suasana Ngaji Kebangsaan di Pondok Pesantren LP3iA Narukan berlangsung penuh kehangatan, kekeluargaan, dan kesederhanaan. Interaksi yang akrab antara jajaran kepolisian dan kalangan pesantren mencerminkan manunggalnya aparat keamanan dengan rakyat serta tokoh-tokoh keagamaan yang menjadi pengayom umat.
Dampak Positif dan Harapan Masa Depan
Kegiatan Ngaji Kebangsaan ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial belaka, melainkan mampu memberikan dampak substansial terhadap perubahan mentalitas dan perilaku kerja seluruh anggota Polri. Nilai-nilai kearifan yang disampaikan dalam kegiatan pengajian diharapkan meresap ke dalam sanubari setiap personel, sehingga terefleksikan dalam tindakan nyata saat melayani masyarakat sehari-hari.
Ke depan, langkah kolaboratif dan silaturahmi keagamaan seperti ini akan terus digalakkan oleh institusi kepolisian di pelbagai tingkat kepemimpinan. Dengan terus merawat sinergi bersama ulama dan pimpinan pesantren, Polri optimis dapat mewujudkan iklim kemasyarakatan yang aman, damai, kondusif, serta semakin dipercaya oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.






