Dua nelayan asal Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilaporkan tenggelam di perairan Pecangaan-Juwana pada Rabu (16/9/2026) pagi. Peristiwa tragis ini terjadi saat keduanya sedang melaut untuk mencari ikan, di mana salah satu korban berniat menolong rekannya yang tersangkut jaring, namun nahas keduanya justru ikut terseret dan tenggelam di lautan.
Kronologi Kejadian di Perairan Juwana
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun dari lapangan, kecelakaan laut ini bermula ketika para nelayan sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan seperti biasa di kawasan perairan Pecangaan, Juwana. Saat sedang menebar atau menarik jaring, salah satu nelayan mengalami kesulitan karena bagian tubuh atau kakinya tidak sengaja tersangkut pada jaring yang sedang turun ke dalam air. Akibatnya, korban langsung tertarik ke dalam laut yang cukup dalam.
Melihat rekannya dalam kondisi bahaya dan berjuang di dalam air, nelayan lainnya yang berada di atas kapal segera berinisiatif untuk memberikan pertolongan. Tanpa ragu, ia melompat ke laut untuk melepaskan jeratan jaring dan menyelamatkan temannya. Namun, upaya penyelamatan tersebut tidak berjalan mulus karena kondisi arus bawah laut yang cukup kuat serta kepanikan yang terjadi di lokasi kejadian.
Kondisi fisik yang kelelahan dan beratnya beban jaring yang basah diduga membuat kedua nelayan tersebut akhirnya kehilangan kekuatan untuk tetap mengapung. Rekan-rekan nelayan lain yang berada di sekitar lokasi kejadian sempat berusaha mendekat untuk memberikan bantuan, namun kedua korban dengan cepat tenggelam dan hilang dari permukaan air sebelum sempat diselamatkan.
Upaya Pencarian oleh Tim SAR Gabungan
Setelah menerima laporan mengenai adanya kecelakaan laut tersebut, tim Search and Rescue (SAR) gabungan segera dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Upaya pencarian ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Satpolairud Polres Pati, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Basarnas, TNI AL, hingga dibantu oleh puluhan nelayan setempat yang menggunakan perahu-perahu tradisional.
Proses pencarian di perairan Juwana ini menghadapi sejumlah tantangan yang cukup berat. Selain faktor cuaca yang tidak menentu di laut lepas, jarak pandang di dalam air juga sangat terbatas akibat lumpur di dasar laut yang naik ke permukaan. Tim SAR gabungan membagi area pencarian menjadi beberapa sektor guna memaksimalkan penyisiran, baik dengan melakukan penyisiran di permukaan air menggunakan perahu karet maupun dengan mempersiapkan tim penyelam di sekitar titik koordinat terakhir dilaporkannya korban hilang.
Pentingnya Keselamatan Kerja bagi Nelayan Tradisional
Peristiwa memilukan ini kembali menjadi pengingat yang sangat berharga mengenai tingginya risiko keselamatan yang dihadapi oleh para nelayan tradisional di Indonesia, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa seperti Kabupaten Pati. Banyak nelayan kecil yang melaut dengan peralatan keselamatan yang sangat minim, bahkan sering kali mengabaikan penggunaan alat pelindung diri yang paling mendasar.
Penggunaan pelampung atau life jacket sering kali diabaikan oleh para nelayan karena dianggap membatasi ruang gerak mereka saat bekerja menarik jaring yang berat di atas kapal. Padahal, alat keselamatan standar tersebut sangat krusial untuk mengantisipasi situasi darurat, seperti terjatuh dari kapal atau tersangkut alat tangkap ikan. Selain itu, pemahaman mengenai teknik penyelamatan diri (self-rescue) dan prosedur penyelamatan rekan kerja di air juga perlu terus disosialisasikan kepada komunitas nelayan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan para nelayan kecil ini. Edukasi berkala mengenai mitigasi bencana di laut serta pembagian bantuan alat keselamatan kerja harus terus digalakkan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang. Sementara itu, pihak keluarga korban dan masyarakat nelayan di Kecamatan Tayu kini tengah menunggu dengan cemas perkembangan proses pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.






