Upaya pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Hingga Sabtu (12/9/2026), tim gabungan yang dikerahkan di lokasi melaporkan bahwa progres pemadaman telah mencapai sekitar 80 persen. Meskipun sebagian besar area terdampak sudah berhasil dikendalikan, petugas masih terus bersiaga dan melakukan penyisiran untuk memadamkan sisa-sisa titik api yang masih membara di bawah tumpukan sampah.
Sinergi Tim Gabungan dan Tantangan di Lapangan
Keberhasilan mengendalikan sebagian besar titik api ini tidak lepas dari kerja keras tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur. Personel dari Polresta Surakarta, TNI, Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta sejumlah instansi terkait dan relawan terus bersinergi di lokasi kejadian. Mereka bekerja siang dan malam guna memastikan api tidak kembali meluas ke area tumpukan sampah lainnya yang belum terbakar.
Memadamkan kebakaran di tempat pembuangan akhir bukanlah perkara yang mudah. Karakteristik sampah yang menggunung menyimpan potensi bahaya tersendiri, terutama karena adanya kandungan gas metana yang mudah terbakar di dalam lapisan dalam tumpukan sampah. Gas metana ini sering kali memicu bara api tetap menyala di bagian bawah, meskipun permukaan atasnya terlihat sudah padam. Oleh karena itu, petugas harus ekstra hati-hati dan menggunakan metode khusus untuk memastikan api benar-benar padam hingga ke bagian terdalam.
Selain faktor gas metana, embusan angin yang kencang di area terbuka TPA Putri Cempo juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam. Angin kencang dapat dengan cepat menerbangkan bara api dan memicu titik kebakaran baru di sektor lain. Untuk mengatasi hal ini, tim gabungan menggunakan alat berat guna mengurai tumpukan sampah yang terbakar, sehingga air yang disemprotkan oleh armada pemadam kebakaran dapat meresap langsung ke titik bara api yang tersembunyi.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Kebakaran yang melanda TPA Putri Cempo ini tentu membawa dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat. Asap tebal yang dihasilkan dari pembakaran berbagai jenis sampah, termasuk plastik dan bahan organik lainnya, berpotensi mencemari udara di sekitar wilayah Solo utara dan sekitarnya. Paparan asap ini sangat rentan memicu gangguan kesehatan, terutama penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan tenggorokan bagi warga yang tinggal di sekitar TPA.
Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan setempat terus memantau kondisi kualitas udara dan kesehatan warga sekitar. Pembagian masker serta penyediaan posko kesehatan darurat menjadi langkah antisipatif yang sangat penting untuk meminimalisasi dampak buruk dari paparan asap kebakaran ini. Warga juga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit asma.
Selain dampak kesehatan, kebakaran ini juga mengganggu aktivitas pembuangan sampah harian di Kota Surakarta. Manajemen pengelolaan sampah harus disesuaikan sementara waktu agar proses pemadaman dapat berjalan dengan lancar tanpa terganggu oleh mobilitas truk sampah yang masuk. Koordinasi yang ketat antara pengelola TPA dan dinas lingkungan hidup terus dilakukan guna mencari solusi alternatif pembuangan sampah sementara selama masa darurat ini.
Evaluasi dan Langkah Pencegahan Jangka Panjang
Peristiwa kebakaran di TPA Putri Cempo ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi sistem pengelolaan sampah dan mitigasi bencana di tempat pembuangan akhir. Kebakaran lahan sampah, terutama pada musim kemarau yang panjang, merupakan ancaman berulang yang memerlukan penanganan preventif yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Salah satu langkah jangka panjang yang perlu diperkuat adalah optimalisasi teknologi pengolahan sampah modern yang dapat mengurangi volume tumpukan sampah secara signifikan. Pemanfaatan teknologi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang saat ini sedang dikembangkan di TPA Putri Cempo diharapkan dapat menjadi solusi permanen dalam mengatasi masalah penumpukan sampah sekaligus mengurangi risiko kebakaran di masa mendatang. Dengan berkurangnya volume sampah terbuka, potensi akumulasi gas metana yang memicu kebakaran juga dapat ditekan seminimal mungkin.
Di samping itu, penyediaan infrastruktur pemadam kebakaran yang memadai di dalam area TPA, seperti pembuatan hidran air mandiri dan kolam penampungan air (embung), sangat diperlukan untuk mempercepat respons awal jika terjadi percikan api. Pelatihan tanggap darurat bagi para petugas lapangan di TPA juga harus dilakukan secara berkala agar mereka memiliki kesiapan dalam melakukan tindakan pertama sebelum api membesar dan sulit dikendalikan.
Dengan progres pemadaman yang kini telah mencapai 80 persen, harapan agar situasi di TPA Putri Cempo kembali normal sepenuhnya kini semakin dekat. Namun, kewaspadaan tinggi tetap harus dijaga oleh seluruh tim gabungan hingga seluruh titik api benar-benar dinyatakan padam total dan aman dari potensi kebakaran susulan.






