Warisan budaya takbenda Indonesia kembali mengukir prestasi manis di kancah internasional melalui keindahan kain tradisional. Dua orang perempuan perajin sekaligus pegiat seni Batik Rifaiyah asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yakni Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh, mendapat kehormatan khusus untuk bertolak ke Darwin, Australia. Kehadiran mereka di Negeri Kanguru tersebut adalah untuk memenuhi undangan resmi dalam rangka memamerkan, memperkenalkan, serta membagikan pengetahuan mendalam mengenai keunikan Batik Rifaiyah melalui serangkaian kegiatan pameran dan lokakarya interaktif yang berlangsung pada bulan Agustus.
Karakteristik Unik dan Nilai Filosofi Batik Rifaiyah
Batik Rifaiyah bukan sekadar kain berhias motif indah, melainkan sebuah karya seni yang sarat akan nilai spiritual, sejarah, dan ajaran agama Islam. Tradisi membatik ini tumbuh dan berkembang secara khusus di lingkungan masyarakat pengikut ajaran Kiai Haji Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar pahlawan nasional pendiri gerakan Rifaiyah, terutama di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Keberadaan batik ini menjadi simbol nyata bagaimana ajaran keagamaan dan kebudayaan lokal dapat menyatu secara harmonis dan menghasilkan sebuah warisan visual yang sangat khas.
Salah satu keunikan utama yang membedakan Batik Rifaiyah dengan jenis batik pesisiran lainnya terletak pada tata cara penggambaran motifnya. Sesuai dengan ajaran dan pemahaman syariat Islam yang dianut oleh komunitas Rifaiyah, gambar makhluk bernyawa seperti burung, ayam, atau hewan lainnya tidak boleh dilukiskan secara utuh. Oleh karena itu, para perajin menyiasatinya dengan memotong bagian leher gambar hewan tersebut atau memodifikasinya menjadi bentuk ornamen tumbuhan dan stilasi abstrak. Langkah ini dilakukan agar karya seni yang dihasilkan tetap estetik tanpa melanggar prinsip keagamaan yang mereka yakini.
Selain keunikan motifnya, proses pembuatan Batik Rifaiyah juga melahirkan tradisi tutur yang sangat memikat. Saat memegang canting dan menorehkan lilin panas di atas kain mori, para perajin wanita Rifaiyah biasanya melantunkan bait-bait syair atau kidung berbahasa Jawa dan Arab yang berisi ajaran moral, tauhid, serta puji-pujian kepada Tuhan. Aktivitas membatik ini pun bertransformasi menjadi sebuah wujud meditasi spiritual dan media dakwah yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Misi Diplomasi Budaya di Kota Darwin
Kehadiran Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh di Darwin, Australia, menjadi sarana diplomasi budaya yang sangat strategis bagi Kabupaten Batang dan Indonesia pada umumnya. Dalam rangkaian agenda pameran dan lokakarya tersebut, publik Australia tidak hanya diajak untuk melihat keindahan lembaran kain Batik Rifaiyah yang telah jadi, tetapi juga diberikan kesempatan langsung untuk mempelajari teknik dasar membatik menggunakan canting tradisional.
Melalui lokakarya interaktif ini, para pengunjung dapat merasakan secara langsung tingkat kerumitan, ketelitian, serta kesabaran tinggi yang dibutuhkan dalam membuat sehelai kain batik tulis asli. Pengalaman langsung ini diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat internasional terhadap nilai historis dan kerja keras para maestro batik di pelosok desa Indonesia.
Pengenalan Batik Rifaiyah di kancah internasional ini juga membuka ruang dialog antarbudaya yang lebih luas. Seni kerajinan tangan terbukti mampu menjadi jembatan emosional yang menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Dukungan dari berbagai pihak dalam menyelenggarakan acara ini menegaskan bahwa kekayaan lokal Indonesia memiliki daya pikat global yang sangat kuat.
Tantangan Pelestarian dan Harapan Bagi Generasi Muda
Meski kerap mendapat pujian di panggung dunia, Batik Rifaiyah sebenarnya menghadapi tantangan pelestarian yang tidak ringan di tanah airnya sendiri. Proses pembatikan yang sangat rumit dan memakan waktu berbulan-bulan kerap membuat generasi muda enggan untuk menekuni profesi sebagai perajin batik tulis. Berkurangnya jumlah perajin senior menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan motif-motif klasik yang sarat makna sejarah ini.
Oleh karena itu, momentum pameran di Darwin ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat baru, baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat luas, untuk memberikan perhatian lebih pada upaya regenerasi perajin. Keberhasilan Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh tampil di tingkat internasional menjadi bukti nyata bahwa profesi perajin batik memiliki martabat tinggi dan ruang apresiasi yang sangat luas di dunia luar.
Langkah membanggakan yang diukir oleh perajin dari Kabupaten Batang ini menandai babak baru dalam upaya menjaga keberlanjutan Batik Rifaiyah. Dengan semakin seringnya batik ini diperkenalkan di panggung dunia, diharapkan kesadaran untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan mempromosikan warisan luhur ini akan terus meningkat demi menjaga identitas kebudayaan bangsa Indonesia tetap hidup dan berkembang di masa depan.






