Jeritan Peternak di Batang: Tak Sanggup Beli Pakan Mahal, Pilih Bagikan 1.000 Aset Ayam Gratis ke Warga!

oleh -15 Dilihat
banner 468x60

ASLIBATANG.COM, BATANG – Sebuah aksi keprihatinan sekaligus bentuk protes terbuka dilakukan oleh seorang peternak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Gara-gara tak lagi sanggup membeli pakan akibat melonjaknya biaya operasional serta anjloknya harga jual di pasaran, peternak tersebut memutuskan bersiap membagikan 1.000 ekor ayam miliknya secara gratis kepada warga sekitar.

Langkah ekstrem ini menjadi potret nyata dari jeritan para peternak mandiri di daerah yang kian terhimpit dan terancam gulung tikar.

Harga Pakan Meroket, Harga Jual Telur Anjlok

Dalam beberapa bulan terakhir, sektor peternakan unggas—khususnya ayam petelur—memang dihadapkan pada situasi yang amat berat.

Harga pakan terus merangkak naik dipicu tingginya harga bahan baku seperti jagung dan konsentrat. Sebaliknya, harga jual telur di tingkat peternak justru merosot tajam. Ketimpangan ini membuat kerugian peternak menumpuk setiap harinya.

Bagi peternak skala kecil, membagikan ayam secara gratis akhirnya dipilih sebagai jalan terakhir daripada membiarkan hewan ternak tersebut mati kelaparan di kandang akibat ketiadaan biaya pakan.

Aksi ini juga menjadi simbol keputusasaan sekaligus desakan agar pemerintah segera turun tangan mengintervensi stabilitas harga.

Ancam Rantai Pasok Pangan dan Ekonomi Daerah

Aksi membagikan aset produktif ini tak hanya menjadi perhatian warga yang mengantre bantuan pangan gratis, tetapi juga menyalakan alarm bahaya bagi ketahanan pangan lokal.

Jika peternak mandiri terus berguguran, pasokan telur dan daging ayam di masa mendatang dikhawatirkan memicu kelangkaan serta lonjakan harga di tingkat konsumen.

Selain itu, kolapsnya peternakan rakyat berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi pekerja kandang di wilayah pedesaan.

Peternak Kebut Solusi Konkret Pemerintah

Para pelaku usaha peternakan mendesak hadirnya solusi taktis dari pemerintah, seperti keterjangkauan harga jagung lokal, penyiapan skema subsidi pakan, serta penegakan harga acuan pembelian (floor price) telur di tingkat peternak.

Intervensi pasar dinilai sangat krusial agar peternak mandiri tidak tergerus oleh fluktuasi harga global maupun rantai distribusi yang terlalu panjang.

Masyarakat dan peternak berharap aksi protes ekstrem seperti di Batang ini tidak perlu terulang kembali, demi menjaga kedaulatan serta keberlangsungan pasokan pangan daerah. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *