Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini harus bekerja ekstra keras untuk menjaga ketersediaan dan pembaruan koleksi buku di perpustakaan daerah. Langkah ini diambil setelah program hibah buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia mengalami penundaan akibat adanya kebijakan efisiensi anggaran di tingkat pusat. Kepala Disperpuska Batang, Budiono, menyatakan bahwa situasi ini menuntut kreativitas dan inovasi dari pihak pengelola agar minat baca masyarakat tidak mengalami penurunan.
Dampak Efisiensi Anggaran Terhadap Literasi Daerah
Penundaan hibah buku dari Perpusnas tentu memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perpustakaan di daerah, termasuk di Kabupaten Batang. Selama ini, bantuan buku dari pemerintah pusat menjadi salah satu pilar utama dalam memperbarui koleksi buku, mulai dari buku pelajaran, literatur ilmiah, hingga buku bacaan umum dan anak-anak. Dengan terhentinya pasokan buku baru ini, koleksi yang ada di perpustakaan berisiko menjadi usang dan kurang menarik bagi pengunjung yang membutuhkan informasi terbaru.
Budiono menjelaskan bahwa pembaruan koleksi buku sangat penting untuk menjaga antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda dan pelajar di Batang. Ketika pengunjung datang dan hanya menemukan buku-buku lama yang sudah sering mereka baca, motivasi mereka untuk kembali ke perpustakaan akan menurun secara drastis. Oleh karena itu, keterbatasan anggaran ini tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan layanan perpustakaan mengalami kemunduran, melainkan harus disikapi dengan mencari alternatif solusi yang mandiri.
Strategi Kreatif Disperpuska Batang
Menghadapi tantangan ini, Disperpuska Batang mulai merancang berbagai strategi alternatif untuk mengisi kekosongan pasokan buku. Salah satu langkah yang sedang dijajaki adalah menggalakkan program donasi buku dari masyarakat umum, komunitas peduli literasi, serta aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang. Melalui gerakan ini, diharapkan masyarakat yang memiliki buku-buku layak baca yang sudah tidak digunakan dapat menyumbangkannya ke perpustakaan daerah agar dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak orang.
Selain mengandalkan donasi fisik, Disperpuska Batang juga berupaya memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital. Pengembangan perpustakaan digital atau e-library menjadi salah satu solusi modern yang sangat relevan. Dengan menyediakan akses ke buku-buku digital (e-book), perpustakaan dapat menghemat biaya pengadaan fisik sekaligus menjangkau pembaca yang lebih luas, terutama generasi milenial dan Gen Z yang lebih terbiasa membaca melalui gawai mereka. Kerja sama dengan berbagai platform penyedia konten digital juga terus diupayakan untuk memperkaya variasi bacaan.
Langkah strategis lainnya adalah menjalin kemitraan dengan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Batang diajak untuk berkontribusi nyata dalam meningkatkan indeks literasi masyarakat setempat dengan cara mendanai pengadaan buku baru atau memfasilitasi sarana penunjang perpustakaan. Kolaborasi semacam ini dinilai saling menguntungkan dan dapat mempercepat pemulihan kualitas layanan perpustakaan daerah.
Pentingnya Kolaborasi dan Dukungan Komunitas
Upaya meningkatkan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah semata. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas lokal. Disperpuska Batang aktif merangkul komunitas-komunitas baca dan pegiat literasi di tingkat desa untuk mengadakan kegiatan bersama, seperti bedah buku, kelas kreatif, dan perpustakaan keliling. Dengan menghidupkan ekosistem literasi dari tingkat bawah, ketergantungan pada bantuan fisik dari pusat dapat perlahan dikurangi.
Selain itu, optimalisasi perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa juga menjadi fokus penting. Disperpuska Batang melakukan pembinaan agar perpustakaan-perpustakaan skala kecil ini dapat saling bertukar koleksi secara berkala. Sistem pertukaran koleksi ini memungkinkan variasi buku di satu tempat tetap terjaga tanpa harus membeli buku baru dalam jumlah besar, sehingga efisiensi anggaran tetap berjalan namun kebutuhan membaca masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.
Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi ini, Disperpuska Batang optimis dapat melewati masa-masa sulit akibat efisiensi anggaran ini. Tantangan berupa mandegnya hibah buku dari Perpusnas justru menjadi momentum penting bagi daerah untuk mandiri dan lebih kreatif dalam mengelola sumber daya yang ada. Dengan komitmen yang kuat dari seluruh elemen masyarakat, diharapkan budaya membaca di Kabupaten Batang akan terus tumbuh dan berkembang demi mewujudkan masyarakat yang lebih cerdas dan berpengetahuan luas.
Sumber: radarpekalongan.disway.id










