Program perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kabupaten Batang tidak hanya berfungsi untuk menyediakan hunian yang layak dan aman. Penjabat Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menegaskan bahwa pelaksanaan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau program bedah rumah, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang nyata bagi perekonomian lokal.
Dampak Multiplier Effect Terhadap Perekonomian Daerah
Pembangunan dan perbaikan rumah bagi MBR terbukti menjadi salah satu stimulus efektif dalam menggerakkan roda perekonomian di tingkat desa maupun kecamatan. Ketika sebuah proyek bedah rumah dilaksanakan melalui mekanisme BSPS, perputaran uang tidak berhenti pada penerima manfaat saja, melainkan menyebar ke berbagai sektor usaha masyarakat sekitarnya. Pengadaan bahan bangunan seperti semen, pasir, batu bata, kayu, hingga atap seng umumnya melibatkan toko-toko material lokal di sekitar lokasi pembangunan. Hal ini secara langsung meningkatkan omzet para pedagang bahan bangunan dan distributor skala kecil di daerah tersebut.
Selain menguntungkan para pemilik toko bahan bangunan, program ini juga berperan besar dalam membuka dan menyerap tenaga kerja lokal. Proses perbaikan atau rekonstruksi rumah membutuhkan keahlian tukang bangunan, kuli bangunan, hingga tenaga kerja pendukung dari lingkungan masyarakat setempat. Dengan mengutamakan tenaga kerja lokal, pendapatan masyarakat pekerja harian terangkat, yang pada akhirnya meningkatkan daya beli mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Pendekatan swakelola yang diusung dalam BSPS memperkuat prinsip gotong royong di tengah masyarakat. Warga saling bahu-membahu membantu proses pembangunan, baik dalam bentuk tenaga, konsumsi, maupun dukungan moral. Kebersamaan ini tidak hanya mempercepat penyelesaian fisik bangunan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga serta menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang mandiri dan berkelanjutan di perdesaan.
Sinergi Program Perumahan dan Akses Pembiayaan Masyarakat
Program bantuan rumah swadaya dan skema pembiayaan seperti KPR rumah subsidi serta KUR Perumahan dirancang untuk mengatasi masalah backlog perumahan sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem. Kabupaten Batang, yang saat ini terus berkembang seiring hadirnya kawasan industri dan pusat pertumbuhan baru, mengalami pertumbuhan populasi dan kebutuhan akan hunian yang terus meningkat. Ketersediaan rumah yang layak, sehat, dan terjangkau menjadi kebutuhan mendasar agar masyarakat MBR dapat hidup dengan kualitas yang lebih baik dan terhindar dari risiko masalah kesehatan lingkungan.
Sinergi antara program bantuan sosial perumahan dari pemerintah dengan fasilitas pembiayaan perbankan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi warga berpenghasilan rendah untuk memiliki aset jangka panjang. Rumah yang layak huni memberikan rasa aman dan stabil bagi keluarga, sehingga mereka dapat fokus pada peningkatan produktivitas kerja dan pendidikan anak-anak. Di samping itu, rumah yang memenuhi standar kesehatan dapat meminimalkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti stunting pada anak, yang menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.
Dalam skala yang lebih luas, keberhasilan pelaksanaan BSPS di Kabupaten Batang memberikan gambaran bahwa investasi pada sektor perumahan rakyat memiliki manfaat jangka panjang yang sangat strategis. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berupaya meningkatkan alokasi dan kualitas sasaran penerima manfaat, agar penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dapat terselesaikan secara bertahap dan merata di seluruh penjuru wilayah.
Ke depan, keberlanjutan program BSPS dan skema pembiayaan perumahan diharapkan dapat terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan perbankan. Dengan integrasi yang baik, program ini tidak hanya berhasil mengentaskan kawasan kumuh dan memperbaiki kualitas hidup MBR, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi penguatan ekonomi kerakyatan dan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan di Kabupaten Batang.
Sumber: infojateng.id













