Cerita Legenda Dari Ujung Negoro, Juragan Hingga Desa Seprih

by

Pada abad ke-14 Masehi mendaratlah rombongan dari negeri Maghribi yg berlayar melalui pantai Tuban,Demak dan tiba dipantai Ujung Negoro, dinamakan Ujung Negoro karena disitu batas pantai Kerajaan Majapahit waktu itu. Setelah berbulan-bulan diperairan dalam misi dakwah menyebarkan agama Islam para rombongan berpencar ke masing-masing desa,sehingga orang-orang mengenal dari rombongan penyebar agama Islam dari Maghribi dikenal dgn nama Syekh Maulana Maghribi.

Sedang orang Tuban, Sedayu, Majapahit sendiri menyebut negara Maghribi dan Arab sekitarnya dg sebutan negara “Atas Angin” hingga orang-orangnya disebut dengan sebutan Kyai Atas Angin atau Syekh Atas Angin,sebutan itu mungkin sama dengan Syekh Maulana Maghribi.

Dikisahkan dari rombongan tersebut yg bernama Syekh Hasan Al-Jufri kagum melihat pemandangan disekitar laut Ujung Negoro yg begitu indah dan subur sehingga ia tak sadar kalau dirinya terpisah dgn rombongannya. Dia berjalan ketimur menyusuri pantai dan melihat ditengah pantai seperti ada kawanan Kerbau atau Mahesa, dihampirinya dan ternyata hanyalah bongkahan batu karang yg dari jauh terlihat seperti kawanan kerbau atau mahesa/maeso. Dari kejadian itu maka, karang-karang tersebut dinamakan “KARANG MAESO” dan sekarang terkenal dengan sebutan Pantai Karang Maheso.

disiang hari yang panas sehingga rasa hauspun menerpa, Syekh Maulana Hasan Al-Jufri dan dia pub berinisiatif untuk mencari mencari sumber mata air untuk minum. Akan tetapi Syekh Maulana Hasan Al-Jufri tidak menemukan sumber mata air, maka Syekh Maulana Hasan Al-Jufri sholat sunah dua rokaat di tempat itu dan minta kepada Allah agar diberi air untuk ia minum. Selesai sholat Syekh Maulana Hasan Al-Jufri menancapkan tongkatnya ke batu karang dan menyemburlah air dari bekas tancapan tongkatnya, Hingga sekarang air itu masih ada yang berada disebelah barat sekitar 300 meter dari makam Ujung Negoro.

Baca Juga:   Cerita Legenda dari Desa Warungasem Batang

Selanjutnya Syekh Maulana Hasan Al-Jufri pun berjalan keselatan untuk menyusul rekan-rekannya, akan tetapi didalam perjalan ia menemukan sebuah sumber yg begitu jernih. Syekh Maulana Hasan Al-Jufri pun menengadahkan wajahnya kelangit dan melihat ternyata matahari sudah tepat diatas kepalanya yang menandakan sholat dzuhur telah tiba, ia pun mengambil air wudlu dan mengerjakan sholat dzuhur disitu, di sumber air itu sekarang dibangun masjid yang berada disebelahnya.

Disitu Syekh Maulana Hasan Al-Jufri berdzikir diatas sebuah batu sambil kagum dengan keindahan alam sekitar dan sudah ada penduduknya hingga ia mengurungkan niat untuk menyusul rekannya keselatan, ia pun ingin berdakwah disitu dan mengembangkan ajaran Islam disitu Bukan hanya ilmu agama islam, bercocok tanam dan ilmu dagang pun ia ajarkan kedapa masyarakat sekitar. Sehingga tempat itu ramai banyak orang menuntut ilmu dan dibuatkannya sebuah tempat untuk jual beli, lama-kelamaan hingga menjadi pasar dan banyak pedagang dari Tionghoapun kesitu untuk menjual barang daganganya melewati laut sampai ke kali Sambong.

Adapula yg datang dari semarang orang kepercayaan Ong King Hong nama Jawanya Dampo Awang atau Kyai Jurumudi pengikut laksmana Zhang He atau yg dikenal Sam Po kong. Lama-lama tempat itu menjadi perputaran ekonomi, hingga para saudagar atau juragan tinggal disitu dan lama-lama desa itu disebut dengan sebutan Desa “JURAGAN”. Atas jasa Syekh Maulana Hasan Al-Jufri ,Ia dikenal dg nama “Mbah SUPRIH” karena lidah orang Jawa yang saat itu masih sulit mengeja nama AL-JUFRI, hingga beliau wafat tempat itu dinamakan desa SEPRIH dr kata AL-Jufri menjadi Mbah SUPRIH hingga SEPRIH.

Itulah catatan cerita legenda Dari Ujung Negoro, Desa Juragan hingga Desa SEPRIH versi Mbah Jaswadi sebgai Lurah Pertama didesa Juragan.

Baca Juga:   Wisata Batang | Pantai Ujung Negoro, Kandeman, Batang

Salam Budaya
Wong Sudro Ing Tlatah Kutho mBatang

Kontributor: ‎Leonardo Dekat-Priyo