Kisah Cinta Dibalik Kelezatan Serabi Kalibeluk Batang

by -522 views
Serabi Kalibeluk Khas Batang

Ternyata Dibalik kelezatan Serabi Kalibeluk Khas Batang ini menyimpan kisah cinta segitiga kerajaan Mataram antara Sultan Agung, Dewi Rantamsari dan Raden Bahurekso.

ASLIBATANG.COM – Sedikit tentang Serabi kalibeluk, yaitu salah satu makanan khas batang yang wajib dicoba saat berkunjung ke batang.

Serabi yang satu ini memang berbeda dengan serabi pada umumnya, bentuknya yang besar serta dipadukan dengan gula aren untuk serabi coklat dan gula pasir untuk yang berwarna putih membuatnya semakin lezat untuk dinikmati.

Namun dibalik kelezatan serabi kalibeluk menyimpan Kisah Legenda yang patut kita ketahui. Kisah ini justru berawal dari desa tetangga yaitu Desa Kali Salak dimana disana ditinggali oleh seorang putri bernama Dewi Rantamsari.

Baca Juga : Serabi Kalibeluk – Kudapan Empuk Khas Batang

Dikisahkan kecantikan Dewi Rantamsari membuat Sultan Mataran kala itu Sultan Agung Hanyokrokusumo, kepincut untuk mempersuntingnya.

Sehingga mengutus Raden Bahurekso yang kala itu bertugas babat alas di batang untuk menjemput anak gadis di Desa Kalisalak yang bernama Dewi Rantamsari.

Sebagai seorang abdi yang patuh, Setelah mendapat restu Raden Bahurekso pun menyanggupi dan berangkat ke Desa Kalisalak.

Sesampainya di Desa Kalisalak dan bertemu dengan Dewi Rantamsari, Raden Bahupun menyampaikan apa maksud dan tujuanya datang.

Raden Bahureksopun menyempaikan bahwa dirinya diutus sang raja untuk membawa Dewi Rantamsari ke Mataran untuk dipersunting raja Sultan Agung.

Mendengar itu Dewi Rantamsaripun merasa keberatan dan tidak mau dibawa ke Mataram, Raden Baureksopun mencoba memaksanya untuk mau dibawa ke kerajaan.

Alhasil dengan perlakukan seperti itu Dewi Rantamsaripun menangis hingga tersedu-sedu seraya berkata ” Duh Raden, walaupun bagaimana aku tidak mau dipersunting sang baginda raja, lebih bahagia aku menjadi istri raden bahu” mendengar kata-kata itu Raden Bahupun luluh dan mulai timbul rasa cintanya ke Dewi Rantamsari.

Tak lama dari situ keduanya pun mulai jatuh cinta, namun disaat yang bersamaan Raden Bahureksopun masih kepikiran tugas dan kewajiban yang diembanya.

Melihat kondisi tersebut Dewi Rantamsari berkata ” Wahai Raden, janganlan gusar dan bingung, adinda mengetahui Raden pasti tidak sampai hati menyerahkan dinda kepada sang baginda. Masih ada jalan keluar untuk menyelamatkan dinda, Raden”.

“Jalan apakah yang bisa menyelamatkan kita berdua, adinda? Aku juga tidak rela kehilanganmu” kata Raden Bahu.

Kemudian Rantamsari bercerita bahwa di Desa Beluk ada seorang gadis yang sangat cantik bahkan melebihi dirinya. Gadis tersebut namanya Endang Wuranti, dia adalah anak penjual serabi, kiranya dapat dipersembahkan kepada Sri Baginda. Raden Bahu mengangguk, hatinya merasa lega karena tugasnya berhasil dan dapat mempersunting gadis idaman hatinya.

Raden Bahureksopun berangkat ke Desa Kali Beluk, setelah sampai dia pun menyampaikan maksud dan tujuanya kepada Endang Wuranti. Bahwa Raden bahu merupakan utusan dari Sri Baginda untuk membawa Endang Wuranti ke Kerajaan untuk dipersunting raja.

Mendengar hal itu Endang Wurantipun merasa sangat gembira. Tak lama setelah itu Raden Bahu membawa Endang Wuranti ke Mataram untuk menghadap Baginda Sultan.

Sesampainya di Mataran, Raden Bahureksopun melapor telah berhasil memboyong Dewi Rantamsari putri Kalisalak ke Keraton.

Mendengar kabar itu, sri baginda sultan memanggil sang puteri yang sudah dinantinya dan memberikan beberapa pertanyaan yang terkait denganya.

Namun sang puteri Dewi Rantamsari Palsu tidak bisa menjawab, hingga akhirnya pingsan tak sadarkan diri karena ketakutan telah membohongi sang raja.

Melihat kejadian itu sri baginda sultan menduga bahwa itu bukanlan puteri yang dikehendaki dan beranggapan bahwa Raden Bahurekso telah menghianati janjinya sebagai seorang kesatria.

Diketahui bahwa akhirnya Endang Wuranti mengakui perbuatanya sebagai Dewi Rantamsari Palsu oleh Raden Bahu, berkat kejujuranya pada baginda sultan Endang Wuranti diminta pulang dan dibekali sejumlah uang untuk mengembangkan jualan Serabinya.

Atas kejadian itu, Baginda Sultan beranggapan bahwa kesalahan ini dilakukan oleh Raden Bahu, Sebagai seorang Raja, Sri sultan pun membahingin membalas perbuatan Raden Bagurekso dengan cara yang halus dan lebih bermanfaat.

Yaitu dengan memberikan titah kepada Raden Bahurekso untuk membuka hutan Gambiran menjadi sebuah perkampungan dan persawahan yang siap dihuni. Sekarang daerah tersebuat lebih dikenal dengan kampung gambaran, salah satu kampung di pekalongan.

Baca Juga:   Cerita Legenda dari Desa Warungasem Batang